Seri Biografi Misionaris: David Brainerd

Misionaris bagi suku Indian Amerika

Mayoritas kedatangan orang – orang Eropa ke Benua Amerika pertama kali bukanlah untuk membangun kehidupan penduduk asli di sana, melainkan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Orang Kristen yang datang bukannya mengajar mereka untuk membaca, tetapi mengajar mereka menembak. Bukannya mengajar mereka berdoa, tetapi mengajak mereka meminum minuman keras. Bukannya menanamkan prinsip dan kejujuran Kristen, melainkan menipu untuk memperoleh bulu binatang dan perhiasan. Di tengah kondisi demikianlah David Brainerd pergi ke daerah-daerah penduduk asli dengan tujuan membawa mereka kepada iman yang sama yang dimiliki Brainerd.

Pada umur 8 tahun, dia kehilangan ayahnya. Pada umur 15 tahun, dia kehilangan ibunya. Pada umur 29 tahun, dia kehilangan nyawanya.

Catatan masa kecil Brainerd tidak banyak, tetapi sifat yang terlihat dari sebagian besar hidupnya adalah keseriusan dan sifat melankolis yang kuat. Brainerd hidup dengan ketat dan senantiasa serius menjalankan kewajiban agamanya. Dia mengatakan “Saya selalu melaksanakan kewajiban saya tanpa henti, konstan, bersemangat; dan saya sangat suka membaca…” Akan tetapi, meskipun dia suka hal-hal religius, di dalam hatinya dia belum menemukan damai sejahtera dalam Kristus. Jiwanya senantiasa bergejolak untuk memahami apa yang disebut anugerah pertobatan dari Tuhan.

Brainerd sering meluangkan waktunya untuk berdoa dan melakukan kewajiban rohani lainnya. Dalam setahun, dia pernah membaca Alkitab sampai habis sebanyak 2 kali. Dia menjaga dengan serius pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Dia memberitakan firman bagi kalangan umum dan berusaha mengingat sebanyak mungkin khotbah-khotbah pendetanya. Pada malam sabat dia ikut perkumpulan untuk melakukan pembahasan religius. Akan tetapi, Brainerd mengenal hatinya sendiri. Dia sadar selama aktivitas agamanya ini, dia tidak sungguh-sungguh percaya pada Kristus. Dia justru bersandar pada kewajiban dan perbuatan baiknya. Dia berpikir bahwa dia harus mencapai hasil tertentu, barulah memperoleh pengampunan dari Tuhan. Maka baginya, keselamatan adalah dengan usaha dirinya melakukan sesuatu untuk Tuhan.

Di dalam pergumulan kerohaniannya, Brainerd tetap memperoleh doktrin-doktrin dasar tentang kekristenan. Di tengah-tengah pemikirannya terhadap doktrin dasar tersebut, ada 3 kenyataan doktrinal yang bertentangan dengan batinnya. Pertama, tingginya tuntutan dari hukum-hukum Allah. Kedua, hanya iman semata yang membawa manusia berdosa untuk keselamatan. Ketiga, kedaulatan Allah. Brainerd sadar bahwa sekeras mungkin dia berusaha memenuhi tuntutan Allah, dia tidak bisa melakukannya. Brainerd tidak mengetahui apa itu iman dan bagaimana memperolehnya, dan Brainerd tidak setuju bahwa keselamatan itu tergantung pada Tuhan saja.

Namun seiring perjalanan waktu, Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi Brainerd yang mengasihi Tuhan. Konsep Brainerd mulai berubah, dia sadar bahwa dengan usahanya sendiri, dia tidak dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan. Keselamatan adalah urusan di luar kemampuannya. Dia ibaratkan segala usaha, jerih lelah rohani yang dia lakukan, hanya usaha “mendayung dengan tangan.” Kebajikan dan kebaikan yang sudah dia lakukan di masa dulu tidak mungkin dapat memaksa Tuhan untuk melakukan sesuatu bagi keselamatan jiwanya. Sejak kesadaran ilahi ini, selama 8 tahun terakhir kehidupannya dia tidak pernah meragukan kasih karunia ilahi yang menyelamatkan jiwanya. Hanya kemuliaan Allah-lah yang sekarang menjadi pusat hidupnya.

Masa kuliahnya penuh dengan tantangan. Dengan perjuangan melawan kesakitan tubuhnya, Brainerd berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan kuilah di Universitas Yale dan sempat menjadi mahasisawa yang memiliki nilai terbaik. Sayang sekali, ketika akhirnya kebangunan rohani yang dikerjakan oleh Jonathan Edwards, George Whitefield, dan rekan-rekan lainnya terjadi, Brainerd menjadi salah satu orang yang lepas kendali akibat api rohani tersebut. Ketika kebangkitan rohani melanda kampusnya, Brainerd menjadi salah satu kelompok yang “lepas kendali.” Orang-orang yang bersemangat terhadap hal rohani ini menjadi pengecam terhadap iman-iman Kristen tertentu. Saat itu, Brainerd mengomentari dosennya waktu dia berdoa mengatakan “Ia tidak memiliki lebih banyak urapan daripada kursi ini.” Kalimat ini tersebar dan terdengar oleh rektor yang tidak suka akan kebangunan rohani yang sedang terjadi. Brainerd dipanggil ke kantornya, lalu dituntut untuk membuat pernyataan publik bahwa dia menyesal atas ucapannya. Brainerd menolak dengan alasan bahwa yang dia lakukan itu bukan di publik dan merupakan pelanggaran yang kecil. Akhirnya rektor mencari alasan sehingga Brainerd dikeluarkan dari kampus. Brainerd dikeluarkan dari kampus, dan dia mengalami kesedihan yang mendalam.

Setelah Brainerd untuk beberapa waktu berhenti kuliah, dia mempersiapkan diri untuk pekerjaan misi. Namun dia tetap berusaha untuk kembali melanjutkan kuliahnya dengan meminta maaf kepada seluruh dewan dosen atas tindakannya yang tidak sepatutnya kepada sesama umat Kristen. Pada mulanya mereka menolak, tetapi akhirnya mereka mau menerima Brainerd kembali untuk kuliah. Karena memang sangat jarang sekali seseorang dikeluarkan akibat pelanggaran yang kecil. Pada saat yang sama, Brainerd sudah fokus ke dalam pekerjaan misi sehingga tidak dapat kembali ke Universitas Yale.

Di dalam persiapannya untuk pekerjaan misi, Brainerd menumpang di rumah seorang pendeta. Dalam lingkungan rumah pendeta ini, dia melanjutkan kesibukan yang paling digemarinya yaitu membaca, berdoa, berpuasa, dan merenung. Selain itu dia memiliki kerinduan yang dalam kepada Kristus. Dia mengatakan “Jiwaku rindu bersekutu dengan Kristus, dan ingin mematikan kebejatan dalam diriku, terutama kesombongan rohani.” Dia juga pernah berkata “Oh Penebusku yang manis! Oh Penebusku yang manis! Siapa yang kumiliki di sorga kalau bukan Engkau? Dan tak ada satu pun di dunia yang kuinginkan selain Engkau. Seandainya aku mempunyai seribu nyawa, jiwaku dengan sukarela akan menyerahkan semua itu sekaligus, untuk dapat berada bersama Kristus.”

Di Connecticut, Brainerd diuji oleh sebuah asosiasi pendeta Presbiterian mengenai pandangan doktrinal dan pengetahuan praktisnya tentang agama. Setelah lulus semuanya, Brainerd diberi izin untuk memberitakan Injil. Khususnya kerinduan Brainerd terhadap keselamatan suku-suku Indian yang tinggal terpencar-pencar di tanah kelahirannya, Connecticut. Hasratnya sedikit demi sedikit mulai bertumbuh dan semakin kuat, Brainerd yakin panggilannya untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang Indian.

Brainerd memperoleh kesempatan untuk mengabarkan Injil ke pelosok-pelosok. Sebelum itu, lembaga misi menguji Brainerd. Pada waktu dia diuji, Brainerd menganggap dirinya tak berpengetahuan dan tak layak, dia rasa dia manusia paling celaka di dunia. Namun para pengujinya berpendapat lain, mereka melihat bahwa Brainerd memiliki kerendahan hati, pengenalan doktrin mendalam, dan semangat yang menggebu-gebu bagi keselamatan orang berdosa begitu besar. Musim gugur tahun 1742, Brainerd ditugaskan bekerja di suku-suku Indian daerah Barat Laut Pennsylvania dan suku-suku lain daerah Sungai Susquehanna. Akan tetapi ketika dia hendak ke sana, ada bentrokan antara orang kulit putih dan orang Indian sehingga tidak membawa kepada pintu penginjilan. Meskipun demikian, pintu lain terbuka. Daerah Kaunaumeek di New York punya prospek yang cerah. Brainerd dipindahtugaskan ke daerah ini sebagai ladang misinya yang pertama.

Di Kaunaumeek, New York, Brainerd beberapa kali bertemu dengan orang Indian. Dia semakin menyadari bahwa betapa sulit tugas yang harus dia lakukan. Setelah berkhotbah, ia merasa putus asa dan khawatir bahwa tidak ada sesuatu yang dapat dia lakukan untuk mereka karena masalah bahasa. Brainerd membutuhkan penerjemah ke dalam bahasa Indian. Syukurlah beberapa bulan kemudian ada seorang Indian Kristen yang dapat menolongnya. Penerjemah ini bahkan menolong Brainerd mendirikan sekolah bagi para orang Indian. Mereka meminta tolong kepada orang-orang yang ada di New York untuk mendirikan sekolah. Tidak hanya kemudahan yang dia dapatkan, kesulitan pun seringkali masuk ke dalam perjalanan pelayanannya. Ia pernah tersesat di hutan dan terpaksa tidur di udara terbuka, pencobaan menghimpit jiwanya ketika menempuh perjalanan di hutan yang lebat, sampai-sampai dia pernah berharap dapat kehilangan kesadaran untuk selamanya. Namun melalui penderitaan yang dia alami, justru imannya diteguhkan. Dia berkata “Aku tertindas itu baik bagiku, agar aku bisa sepenuhnya mati terhadap dunia.” Di Kaunaumeek, Brainerd akhirnya harus berpisah dengan orang-orang Indian di sana karena orang kulit putih mulai merampas tanah mereka. Orang-orang Indian di Kaunaumeek harus pindah daerah. Di sanalah mereka begitu sedih, karena harus berpisah dengan Brainerd. Pelayanan Brainerd di Kaunaumeek tidaklah sia-sia.

Tugas selanjutnya kepada orang Indian adalah di daerah sungai Delaware. Sepanjang hari dia berkuda dari satu tempat ke tempat yang lain, menghimpun pendengar dan menceritakan mengenai anugerah Allah. Di tengah-tengah itu dia tidak pernah melalaikan saat teduhnya setiap hari. Dia senantiasa bertekun melayani di sana, meskipun kondisinya semakin hari semakin lemah. “Saya tidak memiliki konsep tentang sukacita dari dunia ini; saya tidak peduli di mana atau bagaimana saya hidup, atau penderitaan apa yang harus saya alami, asalkan saya dapat memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.” Kesulitan mulai hadir kembali. Ada guru-guru agama yang mengancam akan menyihir dan meracuni orang-orang Indian yang menerima Kristus. Bukan hanya kesulitan dari pihak luar, dari bidang bahasa pun muncul. Orang Indian memiliki bahasa Indian dan terbagi ke dalam berbagai dialek tertentu. Tidak ada keseragaman dalam bahasa Indian. Kosakata bahasa Indian juga sangat tidak memadai. Brainerd menceritakan “Tidak ada kata-kata dalam bahasa Indian yang dapat mengartikan kata ini: Tuhan, Juruselamat, keselamatan, pendosa, keadilan, penghukuman, iman, pertobatan, pembenaran, adopsi, pengudusan, anugerah, kemuliaan, sorga,” maka sangat sulit sekali menjelaskan Injil kepada mereka. Akhirnya Brainerd menggunakan bahasa-bahasa yang lebih mudah untuk mengartikannya. Brainerd melayani hanya bersandarkan pertolongan Tuhan semata.

Di Crossweeksung merupakan puncak keberhasilan pelayanan Brainerd yang Tuhan izinkan dia alami. Telah lama Brainerd bergumul demi supremasi Kristus dinyatakan di tengah-tengah orang Indian. Ibarat perempuan sakit bersalin dia menunggu pertobatan orang-orang Indian itu. Dalam pelayanan Brainerd di sana, banyak orang Indian mau mendengar khotbah Brainerd dan jumlah orang-orang yang dilayani terus bertambah pesat. Setelah beberapa waktu, Tuhan menggerakkan hati orang-orang Indian di Crossweeksung, untuk datang dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap khotbah-khotbah Brainerd. Mereka begitu tergugah dan bertobat. Tidak sedikit orang yang sering mabuk-mabukan kembali kepada Kristus. Hati yang paling keras pun dipaksa tunduk di dalam kisah Kristus. Ada seorang wanita Indian yang tidak tahu bahwa manusia memiliki jiwa. Dia penasaran pada pertemuan ibadah yang dilakukan Brainerd, sementara Brainerd berkhotbah perempuan ini seolah-olah menjerit dalam hatinya. Selama berjam-jam dia jatuh terbaring di atas tanah dan terus mengucapkan “Kasihanilah aku dan tolong aku untuk memberikan hatiku kepada Tuhan.” Ini adalah sebuah manifestasi kuasa Allah. Banyak yang bertobat, menangis, percaya kepada Kristus melalui khotbah Brainerd dan Brainerd menjadi gembala bagi kawanan petobat baru tersebut. Namun akibat kesehatan Brainerd yang memburuk, akhirnya pelayanannya diteruskan oleh saudaranya, John Brainerd.

Meskipun hidupnya begitu singkat dan pelayanan yang menghasilkan buah nyata tidak ia nikmati lama, namun orang-orang akan mengenangnya sebagai misionaris yang melayani setia demi Kristus. Di dalam keseluruhan pelayanan khotbahnya, Brainerd menekankan Kristologi dengan begitu kental. “Acap kali saya kagum akan kenyataan bahwa topik apa pun yang sedang saya bahas, setelah menguraikan dengan panjang lebar dan menjelaskan kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalamnya, dengan sendirinya saya terbawa kepada Kristus sebagai pokok setiap topik. Bila saya membahas Pribadi Allah dan kesempurnaan-Nya yang agung, saya kemudian terbawa untuk berbicara tentang Kristus sebagai satu-satunya jalan menuju Bapa…

Brainerd bukan saja berhasil menjangkau ratusan orang-orang Indian, tetapi orang-orang Indian ini memiliki rohani yang dewasa. Brainerd mencatat “Mereka mempertanyakan banyak hal dari doktrin-doktrin yang saya sampaikan, untuk dapat lebih dalam memahaminya; khususnya tentang doktrin predesintasi; dan terkadang mereka menunjukkan pemahaman yang baik sekali tentang doktrin-doktrin ini, yang terbukti dari jawaban yang mereka berikan atas pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan pada saat pelajaran katekismus.”

Brainerd adalah sesosok pemuda yang giat mengobarkan api injil di tengah-tengah suku Indian. Dalam perjalanannya, memang dia layak disebut misionaris, karena sang misionaris ini rela menempuh perjalanan sulit di daerah sungai, pegunungan, tempat terpencil, penyakit paru-parunya, demi Injil yang dikumandangkan pada orang-orang yang tersesat. Kata-katanya sarat dengan perasaan rohani yang lembut dan limpah dengan kesetiannya memberitakan Injil:

“Namun kini pemikiran-pemikiran ini (untuk menetap, dll.) hancur berkeping-keping, bukan dengan paksa, melainkan dengan pilihan sukarela, sebab saya merasa bahwa Allah telah bekerja dalam hidup saya untuk mempersiapkan saya untuk hidup dalam kesendirian dan penderitaan, dan bahwa saya tidak akan kehilangan apa-apa dalam hal yang terkait dengan dunia, jadi saya tidak rugi apapun bila saya melepaskan semua keinginan itu. Bagi saya adalah baik bila saya miskin, tanpa rumah dan keluarga, dan tanpa kenyamanan hidup yang dinikmati umat Allah yang lain, untuk mana saya bersukacita bagi mereka… Segenap pikiran dan kerinduan saya menyerukan ‘Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi; utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara; utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi, utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu.”

Kondisi fisik Brainerd melemah seiring bertambah umur dan semakin banyak tugas yang dia selesaikan di dunia. Terkadang ia tidak kuat melaksanakan tugas sehari-hari sebagai pendeta. Permintaan khotbah dia tolak, jadwal rutin untuk menulis buku hariannya pun terhenti, infeksi paru-parunya semakin parah, tubuhnya kurus kering, dan kakinya tidak kuat berdiri. Kekekalan tampaknya di depan mata Brainerd. Meskipun demikian, dalam beberapa waktu tertentu dia berjuang memaksa diri untuk berkhotbah dan melayani jemaatnya.

Aku telah berbaring selama lebih dari 3 pekan dalam kelemahan tubuh; sepanjang waktu itu tiap hari atau tiap jam aku menangka akan masuk ke dalam dunia yang kekal; terkadang aku sudah begitu parah sehingga berjam-jam tidak mampu berbicara. Oh, alangkah pentingnya kehidupan rohani yang suci bagiku pada wkatu ini! Aku ingin sekali menganjurkan pada semua teman-temanku supaya mereka sungguh-sungguh hidup bagi Allah; dan khususnya mereka yang direncanakan untuk, atau terlibat dalam pelayanan di tempat kudus. Hai saudaraku yang kekasih, jangan anggap cukup untuk hidup seperti orang Kristen biasa…”

Seandainya saya memiliki seribu jiwa, dan bila ada gunanya sedikit saja, akan saya serahkan semuanya kepada Allah…

***

Catatan:

  • David Brainerd adalah seseorang yang sangat dekat dengan Jonathan Edwards. Dalam beberapa kesempatan Brainerd pernah tinggal di rumah Edwards. Edwards adalah Bapa rohani bagi Brainerd, Brainerd pun menghormati sepak terjang Edwards dalam berkhotbah dan menulis. Brainerd pernah menasihatkan “Bacalah buku Edwards, Treatise on the Religious Affections berulang-ulang, dan berusahalah untuk mampu membedakan dengan jelas antara sekadar pengalaman dan kesungguhan dalam ibadah, supaya engkau dapat mengenali perbedaan antara emas dan logam lain yang berkilauan. Aku tegaskan, berjuanglah, bila engkau ingin menjadi seorang hamba Kristus yang berguna.” Dapat dikatakan Brainerd seolah-olah replika Edwards.
  • David Brainerd selama hidupnya melajang, tetapi pernah menjalin cinta dengan anak kedua dari Jonathan Edwards, yaitu Jerusha Edwards. Mereka berdua memiliki perangai yang sama, serius, rendah hati, dan penuh penyangkalan diri. Sehingga orang-orang memandang mereka cocok untuk menikah. Meskipun tidak sampai menikah, Jerusha pernah menjalani panggilannya untuk mengasihi dan merawat misionaris Indian ini. Brainerd pernah menulis satu ucapan romantis tentang Jerusha: “Berada di sampingnya adalah bagaikan mencicipi sorga.” Ini bukan sekadar cinta seorang pria pada seorang wanita, namun kasih satu orang kudus kepada ang lain, yang berbagi sukacita, dukacita, dan perasaan. Di dalam relasi yang kudus seperti ini, Brainerd tetap mengatakan hidup adalah lebih dari Jerusha. Brainerd tetap memposisikan pekerjaan Tuhan di atas emosi cintanya.
  • Jerusha Edwards adalah sesosok penolong yang sepadan bagi Brainerd. Ketika di masa-masa kelam Brainerd sakit paru-paru yang tak tertahankan, Jerusha berada di sampingnya, merawatnya dengan setia sampai ajal Brainerd tiba. Namun perkabungannya tidak lama, dalam kurang lebih 4 bulan setelah kematian Brainerd, Jerusha menyusulnya. Di usia 18 tahun Jerusha meninggal dunia, oleh karena penyakit paru-paru yang tertular kepadanya dalam kurun waktu 19 minggu ketika merawat kekasihnya. Ia dimakamkan di samping Brainerd di halaman gereja Northampton.
  • Universitas Yale akhirnya mencantumkan nama Brainerd sebagai salah satu lulusannya. Yale mengakui bahwa mereka keliru tidak meluluskan Brainerd dan memberikan penghargaan pada karier Brainerd yang cemerlang. Pada salah satu gedung asrama terpampang inskripsi “David Brainerd, angkatan 1743.”
  • Meskipun Brainerd dan Edwards dari tradisi Puritan dan sebagai penganut John Calvin, mereka tidak setuju gagasan bahwa pemberitaan Injil dan panggilan pertobatan hanya berlaku bagi kelompok-kelompok tertentu, bagi mereka itu suatu pandangan tidak alkitabiah dan sangat menghambat upaya penginjilan dan membuat pandangan manusia tertuju kea lam dirinya sendiri, bukan kepada Kristus.
  • Artikel edisi Desember 1961 dari The Journal of the (American) Presbyterian Historical Society berbunyi ‘William Carey, misionaris pertama dari gerakan misi Protestan modern, membaca riwayat hidup Brainerd dan begitu mengaguminya sehingga ia memandangnya setara dengan Rasul Paulus dan John Eliot…’

Sumber: John Thornbury; David Brainerd– Misionaris Bagi Suku Indian Amerika. Surabaya: Momentum