Datang Mencari Yesus

Markus 7:24-30

Bagian ini menceritakan seorang perempuan yang mencari Yesus. Dalam alkitab ada 2 tipe manusia, yaitu yang mencari Yesus dan yang dicari Yesus. Ada perempuan yang dicari Yesus yaitu perempuan Samaria. Ada perempuan yang mencari Yesus seperti perempuan Kanaan ini. Dalam hal ini, Markus dan Matius bercerita tentang orang dan peristiwa yang sama. Perempuan ini bukan orang Yahudi. Dia adalah orang kafir menurut standar orang Yahudi. Yesus datang ke dalam dunia ini mencari orang berdosa. Orang berdosa yang pertama kali dicari-Nya adalah umat Allah yaitu orang-orang Yahudi, tapi ironisnya orang Yahudi justru ingin membunuh Dia karena Yesus mengkritik budaya mereka. Ayat 21 mencatat Yesus pergi dari daerah Yahudi menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon yang sejak zaman Salomo dikenal daerah orang kafir. Orang yahudi menganggap mereka orang yang tidak punya masa depan dan tidak punya tempat bagi rencana Allah. Alkitab mencatat Yesus menyingkir karena ingin dibunuh. Yesus bukan pengecut. Kita bukan selalu harus nekad dan menyingkir tidak selalu salah. Yesus menyingkir karena Dia tidak mau mati sebelum waktu-Nya. Yohanes 1 mencatat Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tapi milik kepunyaan-Nya itu tidak mengenal Dia. Yesus tidak ingin orang Tirus dan Sidon tahu Dia ada di daerah sana. Namun ada perempuan kafir datang mencari Dia. Perempuan ini tidak punya bargaining position dan nekad mencari Yesus. Dia non-Yahudi dan dia perempuan, tapi tetap datang mencari Yesus. Yesus baru sampai di Tirus, dia sudah datang mencari Yesus. Dia punya pergumulan practical yaitu anaknya sakit yang cukup parah, yaitu sedang menderita karena kerasukan setan. Saya percaya dia sudah mencoba ke dukun-dukun lain dan sudah hopeless. Banyak hal yang membuat kita datang kepada Yesus. Billy Graham punya teman pelayanan bernama Charles Templeton yang akhirnya menjadi atheis, padahal sebelumnya dia lebih terkenal dan pintar dari Billy Graham. Suatu hari dia membaca majalah dan melihat anak kecil kelaparan, lalu dia mulai bergumul: kalau Tuhan ada, mengapa ada kelaparan di Etiopia, lalu dia menyimpulkan bahwa jawabannya Tuhan memang tidak ada. Lalu dia pun akhirnya menjadi atheis dan sangat giat menolong orang kelaparan. Berbeda dengan kita yang mungkin tahu Tuhan ada, maka kita tidak menolong mereka, karena pikir ada Tuhan yang menolong mereka. Itu sebab dunia ini semakin berpihak kepada atheis, tapi tidak berpihak kepada Kristen. Mereka begitu aktif dan penuh semangat karena mereka tidak percaya Tuhan. Pertanyaan intelektual dan eksistensial itu penting, tapi kalau kita tidak bawa ke orang yang tepat, itu bahaya. Biarlah kita membawa pertanyaan kita datang kepada Yesus.

Pertama, perempuan ini punya motivasi yang benar. Dia datang bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain, yaitu anaknya yang sakit. Kita seringkali datang kepada Yesus karena diri kita. Dalam doa kita, kita lebih banyak mendoakan orang atau diri sendiri? Tidak banyak orang Kristen berdoa dengan motivasi yang benar. Ada orang datang karena memikirkan kebaikannya sendiri. Perempuan ini datang karena kebaikan orang lain. Kedua, sikapnya benar, dia datang dengan tersungkur. Ketiga, dia datang dengan teologi yang benar. Ayat 22, “Kasihanilah aku ya Tuhan, anak Daud.” Ini adalah sebutan orang Yahudi untuk Mesias. Seharusnya yang menyebut itu adalah orang Yahudi, tapi dalam cerita ini orang kafir. Motivasi, sikap, teologi benar. Dia punya semua syarat doa orang percaya. Yesus baru mau dibunuh orang Yahudi. Sejak injil Matius dimulai, bukan hanya silsilah yang menyebut Yesus anak Daud, anak Abraham. Setelah silsilah, tidak ada 1 kata pun menyebut Yesus anak Daud. Orang pertama yang menyebut anak Daud adalah orang kafir. Yang diharapkan perempuan ini pasti agar Yesus mengabulkan permintaannya. Namun di ayat 23 dicatat hal yang tidak enak, yaitu Yesus sama sekali tidak menjawab.

Kita lihat ketika berdoa motivasi benar, sikap benar, teologi benar dan Tuhan Yesus diam. Alkitab mencatat bahwa Yesus sama sekali tidak menjawab sepatah kata pun. Banyak orang berkata bahwa kalau doa kita benar maka Tuhan akan menjawab, tapi di mana salah doa perempuan ini? Bagaimana jika saudara menjadi perempuan ini? Inilah pergumulan. Lebih berat kalau Tuhan diam, daripada hidup menderita. Tuhan diam, Dia tidak menyatakan setuju atau tidak setuju, marah atau tidak marah. Kehidupan orang percaya pun bisa mengalami hal ini, kita berdoa dan Tuhan diam. Penderitaan itu berat, tetapi dalam kesulitan, penderitaan, tekanan dan Tuhan diam, itu lebih berat. Mazmur 22:2-3 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru – berseru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.” Kalimat inilah yang dipakai Yesus di kayu salib.  Apa maksud kalimat ini? Apakah Tuhan sedang marah? Tidak. Tuhan diam, apa yang harus kita lakukan kalau jadi perempuan ini? Ini seperti menelepon, nomornya benar, tetapi ternyata nomor yang dituju sedang sibuk. Menariknya, perempuan ini tidak menyerah. Ayat 23 mencatat bahwa murid Yesus menyuruh perempuan itu pergi. Namun perempuan ini memiliki ketekunan yang tidak pernah dimiliki banyak orang. Meskipun dia sudah didiamkan, dia terus mengikut dan berteriak. Murid-murid terganggu sehingga berkata, “Suruhlah dia pergi (send her away), dia mengikut kita dengan berteriak-teriak.” Crying out after ask. Maksud murid berkata demikian adalah agar Yesus segera menyembuhkan perempuan itu supaya mereka bisa istirahat, semua senang dan tenang. Inilah model gambaran mental murid-murid Yesus, pelayanan tidak mau repot. Mereka berkata itu bukan karena belas kasihan atau karena peduli dengan perempuan itu, tapi yang mereka pedulikan adalah kenyamanan mereka. Sangat mungkin seseorang melayani bukan karena peduli orang lain, tapi karena peduli diri sendiri yaitu tidak mau repot. Murid tidak mau tahu apa yang Tuhan Yesus mau yang penting mereka bisa tenang. Orang Kristen bisa pelayanan seperti ini. Kita tidak peduli Tuhan maunya apa. Bukankah seharusnya murid bertanya, “Tuhan mengapa diam? Apa yang kami bisa pelajari dari ini?” Saudara bisa bayangkan, inilah model mahasiswa STT pertama di dunia ini. Tidak punya belas kasihan dan hanya memikirkan diri sendiri. Kadang saya pikir mengapa Yesus sabar dengan murid yang seperti ini, tapi saya pikir, “Kalau Yesus tidak sabar dengan mereka, maka Yesus juga tidak sabar dengan saya juga.” Murid-murid Yesus dapat dianggap sebagai mahasiswa STT pertama yang ada di dunia. Dapat dibilang mereka adalah mahasiswa STT Yesus dimana Yesus menjadi rektor, pengajar dan pelajarannya tentang Yesus juga. Namun, justru sikap dan kelakuannya seperti ini. Mereka lebih memikirkan diri sendiri, meminta agar gurunya mengusir wanita tersebut sehingga mereka dapat istirahat. Kita pun juga dapat berlaku demikian ketika kita melakukan pelayanan.

Selain melayani firman, Yesus melakukan juga bakti sosial di mana Ia memberi makan 5000 orang dalam salah satu pelayanannya. Jadi tidak benar dikatakan bahwa Yesus hanya peduli penginjilan, tidak peduli dengan baksos. Buktinya adalah Yesus memberi makan 5000 orang tersebut. Bahkan ketika Yesus hendak memberi makan 5000 orang tersebut, justru murid-murid yang protes kepada Yesus karena mereka berpikir bahwa dana yang mereka pegang tidak akan cukup sama sekali untuk memberi makan orang-orang tersebut. Hal yang para murid-murid lakukan pada masa itu sejatinya mirip dengan apa yang gereja-gereja lakukan dewasa ini setelah Yesus terangkat ke surga. Kita melayani bukan karena kita peduli dengan orang lain melainkan yang kita lakukan adalah demi kepentingan kita sendiri. Satu kelucuan menurut saya dari apa yang ditunjukkan oleh murid-murid Yesus dimana mereka ingin melayani, namun tidak mau repot. Justru pelayanan itu hal yang merepotkan namun kalau motivasinya tidak ingin direpotkan, itu sangat egois. Itulah murid-murid Yesus. Mereka meminta agar Kristus mengusir wanita tersebut agar mereka bisa beristirahat dengan tenang. Ini ironis sekali dimana kita bisa melihat murid-murid Yesus sangat menyedihkan namun wanita ini bersikap mengagumkan karena dia datang dan meminta kepada Yesus dan tidak akan pulang sebelum anaknya disembuhkan.

Di ayat 24 kita lihat Yesus berkata bahwa Ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang daripada umat Israel. Di sini Yesus seakan-akan mengusir wanita tersebut dan menekankan bahwa pelayanan-Nya hanya kepada umat Israel sedangkan wanita tersebut bukanlah orang Israel. Kalau dibandingkan dengan kenyataan sekarang, pernyataan ini sangat berbeda sekali dengan pelayanan yang kita lakukan. Kita pergi ke seluruh dunia untuk mencari jiwa karena kita percaya bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjadi umat Allah. Sampai di sini mungkin kita akan bertanya-tanya apakah ini Yesus atau bukan yang berkata-kata. Mengapa tidak seperti Yesus yang biasa kita kenal menyambut orang? Mengapa Dia seakan-akan menutup pintu pelayanan-Nya kepada wanita tersebut dengan berkata bahwa Ia datang hanya kepada umat Israel? Sekarang bayangkan, apa yang mungkin saudara-saudara lakukan apabila Yesus bersikap kepada kita seperti ini? Itu bisa dijawab di dalam hati masing-masing. Namun yang perlu kita lihat selanjutnya adalah apa yang dilakukan oleh wanita tersebut merespons perkataan Yesus tersebut. Di ayat selanjutnya dikatakan bahwa kemudian perempuan itu datang mendekat dan menyembah kepada Yesus sembari berkata “Tuhan, tolonglah aku.” Suatu seruan yang sangat rendah hati. Seruan ini menunjukkan kesadaran diri bahwa dia tidak layak untuk dibantu tapi dia tetap memohon untuk dibantu dengan kondisi dia berada diambang keputusasaan. Seperti berpegang pada satu senar tali yang sangat tipis namun tetap dipegang terus. Jikalau ini dikembalikan kepada kita, mungkin kita tidak sungkan untuk berpegang pada pengharapan yang setipis rambut itu. Hal ini bisa disaksikan dimana banyak orang yang datang kepada dukun untuk meminta kesembuhan. Perempuan ini, berbeda dengan orang-orang biasanya, tetap berpegang pada pengharapannya meskipun itu seperti berpegang pada sehelai rambut. Mungkin, kalau jadi Yesus, saya mungkin berpikir bahwa apa yang saya lakukan itu kejam. Akan tetapi, apabila kita lihat pada ayat yang ke 26 Yesus berkata “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata anjing ini biasa dipakai orang Yahudi untuk menyebut orang-orang non-Yahudi dan anjing ini adalah hewan yang najis dalam kebudayaan Israel. Jadi kata ini dipakai untuk merendahkan orang-orang non-Yahudi sebagai orang yang najis untuk bagi orang-orang Yahudi. Sekali lagi, jawaban Yesus ini bisa membuat kita bertanya-tanya lagi apakah memang ini Yesus yang kita kenal. Saya pribadi tidak bisa percaya bahwa ini Yesus yang sama yang pernah mengatakan “Marilah datang kepadaKu yang berbeban berat,” karena mampu berkata-kata seperti itu kepada perempuan non-Yahudi tersebut. Namun pada ayat yang ke 27 kita dapat melihat jawaban wanita tersebut yang lebih mengagumkan dan ini yang membuat siapapun dapat terharu mendengarkannya.

Perempuan itu menjawab “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Di sini ia membenarkan perkataan Yesus sebelumnya, menyanggupi dan mengiyakan bahwa dirinya pantas disebut anjing, namun juga menyatakan bahwa dirinya, si anjing tersebut, juga memakan remah-remah dari tuannya. Orang percaya dewasa ini sudah kehilangan sikap seperti ini. Kebanyakan dari kita, orang-orang percaya, merasa layak dan tidak mau dikatakan sebagai anjing. Mau hanya dikatakan sebagai anak. Bahkan hal ini juga menjadi tren dimana kita digembar-gemborkan bahwa kita adalah anak Raja dan sudah sepantasnya dan selayaknya kita hidup tidak biasa-biasa saja. Kita berhak untuk mengklaim janji Tuhan. Sungguh kontras dengan pernyataan perempuan tersebut barusan    dimana   dia   merasa  tidak  layak meminta pertolongan Tuhan. Kebanyakan orang percaya sudah kehilangan rasa tidak layak, dan saya katakan detik dimana kita merasa layak dihadapan Tuhan, detik itu juga kerohanian kita hancur. Detik dimana kita merasa tidak layak di hadapan Tuhan, melayani Tuhan, detik itu juga pelayanan kita diterima dan dipakai oleh Tuhan dan begitu juga sebaliknya, saat dimana kita merasa layak di hadapan Tuhan, saat itu juga kita ditolak oleh Tuhan dan hancur kerohaniannya. Tetapi yang terjadi dewasa ini mengajarkan kita bahwa kita layak di hadapan Tuhan dan sudah sepantasnya kita meminta hal-hal luar biasa daripada Tuhan. Kita, orang percaya, jarang berpikir bahwa kita tidak layak di hadapan Tuhan tetapi wanita ini justru memiliki iman bahwa memang dirinya tidak layak di hadapan Tuhan.

Di ayat 28, di closing nya, sungguh sangat menarik. Yesus menjawab “Hai ibu, besar imanmu maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Saya ingin fokus kepada bagian kalimat “besar imanmu.” Saudara-saudara, kalau dari awal kita ikuti bacaan ini terlihat suasana yang digambarkan tidak menyenangkan namun sampai dititik dimana perempuan tersebut menyatakan ketidaklayakannya di hadapan Tuhan, suasana berubah. Kalau kita dihadapkan kondisi seperti ini, mungkin kita akan merasa marah jikalau diberi remah-remah dan justru menuntut diberikan roti. Terbalik dengan perempuan ini. Ini karena kita merasa layak. Anak Raja. Seketika Yesus mendengar kalimat jawaban perempuan tersebut, Kristus lalu menjawab “Hai ibu, besar imanmu…” Di sini baru terlihat agenda Yesus yang sebenarnya dari awal menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa iman yang besar adalah seperti iman yang ditunjukkan oleh perempuan tersebut. Matthew Henry mengatakan bahwa pada bacaan kali ini Yesus bukan hanya ingin prove her faith tetapi juga improve her faith. Ini yang juga bisa kita pelajari dari kisah hidup Yesus pada cerita ini. Yesus ingin menunjukkan kepada dunia contoh iman yang besar. Apabila saat ini Yesus datang ke dunia dan berdialog dengan kita, apakah mungkin Yesus berkata bahwa iman yang kita miliki juga besar? Namun kalau misalnya saya dihadapkan dengan keadaan seperti yang digambarkan pada bacaan ini, mungkin Yesus akan berkata “Hai hamba Tuhan, hanya sebesar itu imanmu?” Sungguh memalukan bukan? Hal yang sama mungkin dinyatakan Kristus ketika berdialog dengan kita.

Agenda kedua yang ditunjukkan oleh Yesus dari bacaan ini adalah Allah itu bukan mesin minuman yang apabila kita masukkan uang bisa mengeluarkan minuman yang kita minta. Tidak mungkin sebuah mesin minuman yang apabila kita minta teh manis akan mengeluarkan hal yang berbeda. Mesin minuman itu predictable, bisa kita kontrol apa yang akan dilakukannya. Kalau sampai tidak seperti itu, tentu kita akan marah. Namun di sini Yesus menunjukkan Allah bukanlah mesin yang melakukan apa yang kita mau. Kalau memang doa kita selalu dikabulkan, kita perlu bertanya apakah memang ini adalah Allah yang kita sembah. Sebagai pribadi Allah memiliki kehendak sendiri dan sepatutnya kita bersyukur bahwa doa kita tidak selalu dikabulkan karena berarti yang kita sembah adalah Allah. Memang kita akan merasa paling nyaman jikalau kita bergaul dengan orang-orang yang selalu seia dan sekata. Tetapi kalau terlalu lama mereka seperti itu, kita perlu mencurigai apakah kita memang bergaul dengan orang-orang atau bukan. Sama seperti jikalau kita menikah dan kadang berbeda pendapat dengan pasangan anda, tidak perlu diragukan lagi bahwa yang kita nikahi adalah manusia, bukan robot. Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, bagaimana dengan iman kita? Besar atau kecil. Kiranya Yesus dapat berkata kepada kita “Besar imanmu.”

 

*Ringkasan belum diperiksa pengkhotbah