Tertikam Karena Kita

“Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita.” (Yes. 53:5)

Kristus telah berkarya bagi keselamatan kita supaya kita memperoleh damai, sukacita, sorga dan kemuliaan kekal. Ia ditetapkan akan berkeringat darah di dalam penderitaan-Nya dan bergumul dengan pemikiran tentang kematian yang harus ditanggung-Nya karena dosa-dosa kita. Ia berteriak, meratap, dan berduka di bawah cambukan keadilan. Ia dipakukan pada kayu salib dengan tangan-Nya yang terentang lebar untuk memperlihatkan manfaat karya penebusan-Nya yang dikaruniakan secara cuma-cuma kepada kita jika kita datang kepada-Nya.

Betapa Ia dengan sepenuh hati akan merangkul kita dengan kedua tangan-Nya! Ia menawarkan segalanya secara cuma-cuma; betul, Ia datang, sesuai berita Injil, dengan darah mengucur di wajah-Nya, air mata di pipi-Nya, penuh luka di kaki dan tangan-Nya, dan darah yang mengalir dari rusuk-Nya, untuk mendesak Anda menerima tawaran pendamaian (rekonsiliasi) yang penuh kemurahan hati.

Apakah Anda mencintai dosa lebih dari anugerah, dan kegelapan lebih dari terang? Akankah Anda menutup mata terhadap Dia tetapi membuka mata lebar-lebar bagi kesenangan jasmani? Apakah Anda mau menerima risiko kematian kekal di hari penghakiman? Akankah Anda memandang rendah Dia dan menolak anugerah-Nya? Apakah Anda ingin berkubang dalam dosa terus hingga hari penghakiman?

Kebinasaan jiwa bukanlah cerita dongeng. Tubuh dan jiwa, dua-duanya akan dibinasakan di neraka. Tubuh jasmani adalah sarana, dan jiwa manusia adalah sang aktor, tetapi jiwa adalah si pendosa dan, sebagai bagian utama, jiwa harus dihukum! Jiwa memiliki tangan paling tercemar dalam dosa, dan sang jiwalah yang harus menanggung beban hukuman. Jiwalah yang akan menjadi paling tersiksa dan menanggung sendiri hukumannya. Di luar anugerah Kristus, tubuh dan jiwa pasti terhilang, terbuang, dan dihakimi di neraka karena dosa. Apa yang dapat dikatakan? Alangkah mengerikan berada di tempat yang tak terhingga jauhnya dari Allah! Siapakah yang dapat menyelami kedahsyatan murka Allah, bobot dosa, siksaan-siksaan yang akan menelan habis jiwa, dan berapa lamanya keabadian, ketika terbuang dari hadirat Allah? Oh, apakah yang dapat diberikan manusia sebagai ganti jiwanya?

John Bunyan (1628-1688), Works, I:131-136;Richard Rushing – Voices from the past, Momentum 2017