TEPUKAN KASIH BAPA SORGAWI

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. 2 Korintus 4:17

Kristus adalah jawaban atas penderitaan.

Sakit-penyakit, kesedihan, dan dosa, semua itu adalah akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa di Taman Eden. Penyakit merupakan produk sampingan dari pelanggaran. Namun bukan berarti orang Kristen yang telah diampuni tidak pernah menderita sakit. Dalam Alkitab dikatakan, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.” (Mzm. 34:20)

Ayub pernah menderita, Paulus pernah merasa lemah, Lazarus pernah sakit; dan orang-orang baik dalam sejarha terbukti tidak kebal dari penyakit dan lemah jasmani. Banyak orang menulis surat pada saya dan bertanya, “Mengapa orang Kristen menderita?” Mereka kurang percaya ada alasan di balik penderitaan orang Kristen. Dalam Alkitab disebutkan, salah satu alasan mengapa umat Allah menderita adalah karena itu merupakan proses pendisiplinan, pengajaran, dan pembentukan.

Dalam Alkitab dikatakan, “Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.” (Ulangan 8:5).

Selain itu, ada ayat yang berbunyi, “Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu.” (Mzm. 94:12)

Dalam Alkitab juga tertulis, “Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.” (Amsal 3:12)

Dari ayat-ayat di atas, kita mempelajari bahwa hajaran penderitaan merupakan sastu langkah maju dalam proses pengembangan kita yang utuh dan sepenuhnya. Kadang kala itu merupakan tepukan kasih dari Bapa kita di sorga, untuk menunjukkan bahwa kita sudah menyimpang dari alur tugas kita.

Dalam esai terakhir yang ditulis sebelum kematiannya, C.S. Lewis, sang ahli apologetik, berkata, “Kita tidak punya hak untuk bahagia. Kita hanya punya kewajiban untuk melakukan tugas kita.” Tentu saja di dalam tugas kita kebahagiaan itu datang. Cobalah.

Disadur dari Buku: Unto the Hills- Billy Graham