Teologi Tepat tapi Kurang Nilai

Buah Roh Kudus adalah kasih, sukacita, damai, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, dan pengendalian diri. Galatia 5:22-23

Hampir semua keahlian muncul dari teknik yang benar. Misalnya olahraga Baseball. Para pemain menghabiskan berjam-jam menguasai teknik mereka untuk memukul bola. Mereka berjuang agar dapat memukul bola dengan bahu yang tepat, kepala yang siap, pijakan yang tepat, mengatur kekuatan pada kaki mereka, dan mengatur tingkat ayunan pukulan. Begitu banyak jam yang dihabiskan untuk menguasai keahlian ini. Akan tetapi, hal ini tidak akan membuat banyak perbedaan pada angka permainan atau jumlah penghasilan pemain kecuali mereka memukul bola dengan konsisten. Teknik adalah 1 hal; hasil adalah hal yang lain.

Teologi juga sama. Kamu tahu beberapa orang yang teologinya benar dan tepat. Mereka dapat mengutip pasal dan ayat sebagai dasar kepercayaan mereka dan juga menjelaskan pengajaran John Calvin dan Martin Luther. Akan tetapi, jika teologi tidak diterjemahkan menjadi sesuatu yang lain, maka teologi tersebut tidaklah bernilai tinggi. Apa yang kamu dan saya percaya adalah hal yang penting, tetapi tidak sepenting siapakah kita sebagai manusia dan bagaimana kita berperilaku.

Kamu bisa memiliki teologi yang tepat, tetapi tidak ada sukacita.
Kamu bisa memiliki teologi yang tepat, tetapi tidak ada damai.
Kamu bisa memiliki teologi yang tepat, tetapi tidak ada pengendalian diri.

Jika seperti itu kasusnya, di manakah kebaikan teologimu? Bukan hal yang ada di kepalamu yang dihargai – tetapi apa yang ada di hatimu dan apa tindakan nyatamu. Teologi yang tepat itu sendiri tidak akan menarik orang lain kepada Tuhan, tetapi buah Roh kudus mampu melakukannya. Apa yang orang lain lihat dalam dirimu lebih memiliki pengaruh daripada apa yang kamu katakan kepada mereka agar mereka percaya.

Dalam olahraga Baseball, bisa saja kita sudah memiliki teknik yang baik namun gagal saat pertandingan (strike out). Begitu juga dengan iman. Jika kita terus gagal mempraktekkannya dalam kehidupan, saatnya kita berubah bukan?

Sumber: H. Norman Wright. Strong to the Core. Oregon: Harvest House Publishers.