Teladan Kristus

Setelah ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. (Mar. 6:46)

Salah satu hal paling menakjubkan dalam seluruh Kitab Suci adalah berapa banyak waktu yang dihabiskan Yesus untuk berdoa. Dia hanya memiliki 3 tahun pelayanan publik, namun Yesus tidak pernah tergesa-gesa menghabiskan waktu berdoanya. Dia berdoa sebelum setiap tugas sulit menghadang-Nya. Dia berdoa dengan keteraturan – tidak ada hari di mana Dia tidak membuka jiwa-Nya di hadapan Bapa-Nya.

Sebaliknya, kita berdoa dengan begitu cepat dan asal-asalan. Penggalan ayat yang dihafalkan diucapkan dengan tergesa-gesa di pagi hari; kemudian kita mengucapkan selamat tinggal pada Allah selama satu hari, sampai kita terburu-buru mengajukan permohonan di malam harinya.

Ini bukanlah program doa yang digambarkan oleh Yesus. Yesus berdoa dengan panjang dan berulang kali. Dicatat bahwa Dia menghabiskan sepanjang malam dengan permohonan yang sungguh-sungguh.

Betapa sedikitnya ketekunan dan permohonan yang kita tunjukkan. Beberapa waktu lalu sebuah surat kabar menceritakan tentang seorang pria di Washington yang menghabiskan 17 tahun menjaga tingkah laku baik untuk klaim sebesar 81.000 dolar terhadap pemerintah. Namun banyak orang tidak akan berdoa selama 17 menit demi keselamatan abadi jiwa mereka sendiri atau demi keselamatan orang lain.

Kitab Suci berkata, “Tetaplah berdoa” (1 Tes. 5:17). Ayat ini seharusnya menajdi motto setiap pengikut sejati Yesus Kristus. Jangan berhenti berdoa, tidak peduli betapa gelap dan putus asanya permasalahan Anda. Beberapa waktu lalu, seorang wanita mengirim surat kepada saya menceritakan bahwa ia sudah berdoa selama 10 tahun demi pertobatan suaminya, namun suaminya menjadi lebih keras hati daripada sebelumnya. Saya menasihatinya untuk terus berdoa.

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar kabar lagi, suami wanita itu telah bertobat dengan ajaib dan luar biasa pada tahun ke-11 di masa ia terrus bergumul dengan doanya. Itulah yang dimaksud dengan “tetaplah berdoa.”

Siapakah yang sudah Anda doakan belakangan ini?

Disadur dari Buku: Unto the Hills- Billy Graham