Taat Suara Allah

Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan. 1 Sam. 15:22

Tidak cukup hanya mendengar suara Allah, tetapi kita wajib menaatinya. Ketaatan merupakan bagian dari utang kehormatan kita kepada Allah. Inilah keindahan orang percaya yang membuat kita berharga di hadapan Allah dan menjadikan kita kesayangan-Nya (Kel. 19:5). Unsur apa yang membentuk ketaatan kita agar diterima oleh Allah?

  1. Ketaatan wajib dilaksanakan dengan sukarela dan dengan penuh keceriaan, kalau tidak, maka ini adalah usaha pembayaran / pelunasan, bukan persembahan korban. Orang munafik menaati Tuhan dengan keengganan, dan bertentangan dengan keinginan mereka. Kain membawa persembahan tanpa mengikutsertakan hatinya. Keceriaan menunjukkan adanya kasih di dalam kewajiban.
  2. Ketaatan harus disertai dengan kesalehan dan semangat menggebu-gebu – bukan seperti siput yang membosankan dan lamban. Laksana air yang sedang bergolak mendidih, demikian seharusnya hati yang terisi afeksi dalam pelayanan kepada Allah. Ketaatan tanpa semangat kesungguhan bagaikan persembahan korban bakaran tanpa api. Doa Elia menyulut api dari sorga karena doanya membawa api semangat ke sorga.
  3. Kita wajib menaati semua perintah Allah. Orang munafik akan menaati Allah hanya untuk hal-hal yang membutuhkan sedikit usaha, dan apa yang dapat meningkatkan reputasi mereka, tetapi membiarkan hal-hal lain terbengkalai. Herodes berhasrat mendengarkan Yohanes Pembaptis, tetapi tidak bersedia melepaskan ikatan seksualnya yang terlarang (inses).
  4. Ketaatan haruslah tulus. Kita wajib mengarahkannya bagi kemuliaan Allah. Sasaran ketaatan kita bukan hanya untuk menyumbat mulut nurani, atau demi menerima sanjungan, melainkan supaya kita dapat bertumbuh lebih menyerupai Allah.
  5. Ketaatan harus konstan berkesinambungan. Ketaatan sejati bagaikan api di atas mezbah yang selalu menyala. Ketaatan orang munafik hanyalah semusim; seperti baluran kapur yang cepat memudar / luntur.

Perintah-perintah Allah tidaklah memberatkan, dan Ia tidak memerintahkan sesuatu tanpa alasan / semena-mena (1 Yoh. 5:3). Ketaatan kepada Allah lebih sebagai hak istimewa kita daripada sebagai kewajiban kita. Perintah-perintah-Nya membawa serta berkat-berkat. Ada kasih di dalam setiap perintah-Nya, bagaikan seorang raja yang memerintahkan seorang rakyatnya menggali di tambang emas, dan lalu memberikan hasil emasnya untuk disimpan sendiri oleh pekerjanya. 

Thomas Watson (1620-1686), The Ten Commandments, Hlm. 1-6; Richard Rushing – Voices from the past