Sukacita di Tengah Pencobaan

Mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. (Ibr. 2:2)

Siapa bilang kehidupan Kristiani bebas dari masalah dan tanpa pencobaan? Tatkala pencobaan menerpa, ada kalanya kita bersikap seolah-olah Allah sedang pergi liburan. Kita bertanya kepada Allah: Mengapa ini terjadi padaku? Apa yang membuatku layak menerima cobaan ini? Lagipula, aku rajin ke gereja, memberi persembahanku dengan sukarela, dan bersaksi tentang Kristus kepada orang lain. Jadi mengapa aku harus melalui masa-masa sulit seperti ini?

Bacalah janji Kitab Suci sebagai jawabannya. Yesus berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan.” Dia tidak berkata bahwa Anda tidak akan mengalami sengsara atau bahwa jika Anda bukan orang baik, maka Anda akan sengsara. Dengan lugas Yesus menyatakan bahwa Anda akan menderita sengsara. Ini sama pastinya seperti pertambahan usia.

Yesus juga berkata bahwa jika Dia dianiaya, Anda pun akan mengalami penganiayaan, karena “seorang hamba tidak lebih daripada tuannya.” Sejatinya, orang tidak menganiaya Anda lebih dari mereka menganiaya Kristus yang ada di dalam diri Anda.

Tetapi janji indah yang dilontarkan Yesus berkata bahwa di saat Anda mengalami pencobaan dan kesengsaraan, “kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Jadi Yesus sedang berkata bahwa di saat orang lain menganiaya Anda (atau menganiaya Yesus yang ada di dalam diri Anda), jangan khawatir. Dia sudah mengalahkan dunia, sumber segala pencobaan dan kesengsaraan Anda.

Pernahkah Anda khawatir tentang hutang finansial, dan seseorang berkata untuk tidak khawatir, kemudian ada orang lain yang melunasi itu semua? Itu adalah pengalaman yang sangat melegakan.

Persis seperti itulah pengalaman serta sikap yang Allah inginkan dari kita di tengah pencobaan yang kita alami. Allah ingin kita memandang kepada Yesus, yang memimpin kita kepada iman dan yang menyempurnakannya. Dia sendiri telah mengatasi pelbagai pencobaan dan aniaya serupa dan akan memberi kita kuasa untuk melakukan hal yang sama. Dia hanya menunggu kita untuk memintanya.

Disadur dari Buku: Unto the Hills- Billy Graham