SEBUAH PESAN UNTUK PARA IBU … DAN YANG LAINNYA!

Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. 2 Kor. 8:5

Hidup kreatif dalam Kristus tergolong gampang-gampang susah bagi semua orang Kristen, laki-laki maupun perempuan. Jauh lebih mudah untuk tampak hebat di antara teman-teman kita saat kita menunjukkan sisi terbaik kita dan sadar akan opini orang lain akan kita, ketimbang hidup bagi Kristus di rumah kita. Lingkaran keluarga kita tahu jika Kristus hidup di dan melalui kita atau tidak.

Jika saya orang Kristen sejati, saya tidak akan menunjukkan sifat yang jelek, tidak sabar, suka mencari-cari kesalahan, sarkasme, tidak baik hati, gampang curiga, egois, atau malas. Sebaliknya, saya akan menunjukkan buah Roh melalui hidup saya sehari-hari, yaitu kasih, sukacita, penguasaan diri, dan semua kebajikan umat Kristiani yang menggambarkan kepribadian seperti Kristus.

Hanya Allah sendirilah yang sepenuhnya menghargai pengaruh seorang ibu Kristiani dalam membentuk karakter anak-anaknya. Alkitab mengaitkan kisah beberapa perempuan yang memberi pengaruh buruk kepada anak-anaknya. Beberapa penjahat terbesar di dalam sejarah memiliki ibu yang tidak baik.

Di sisi lain, kebanyakan tokoh terhormat dan pemimpin terbaik di dalam sejarah memiliki ibu yang baik dan takut akan Allah.

Kita tahu, Ibu George Washington adalah perempuan saleh, Ibu Sir Walter Scott adalah pecinta puisi dan musik, tetapi Ibu Nero adalah pembunuh, Ibu Lord Byron yang cabul adalah perempuan yang angkuh dan kasar. Ucapan Lord Shaftesbury yang terkenal ini benar adanya, “Berikan saya generasi ibu-ibu Kristiani, dan saya akan mengusahakan perubahan seluruh masyarakat dalam 12 bulan.”

Jika kita punya lebih banyak ibu Kristiani, kita akan menghadapi lebih sedikit kejahatan, tindakan amoral, ketidaksalehan, dan keluarga yang tercerai-berai. Setiap ibu berutang pada anak-anak mereka untuk menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, agar ia bisa jadi pengaruh bagi kebaikan hidup orang-orang yang dikaruniakan Kristus kepadanya.

Disadur dari Buku: Unto the Hills- Billy Graham