Rasa Bersalah & Pengampunan

Allah membuat Dia yang tidak berdosa menjadi berdosa untuk kita, supaya di dalam-Nya kita menjadi benar di hadapan Allah. (2 Kor. 5:21)

Kita semua membuat pilihan-pilihan yang dapat dipertanyakan dalam kehidupan ini. Salah satu pilihan yang paling dipertanyakan adalah hidup dengan perasaan bersalah (guilt) ataukah hidup tanpa perasaan bersalah sama sekali. Kenapa memilih hidup dengan perasaan bersalah? Sebenarnya, kita punya pilihan untuk pengampunan, kenapa tidak kita lakukan? Mari kita lihat dasar-dasar pengampunan:

Pertama, kamu dapat diampuni baik apapun yang telah kamu lakukan dan pikirkan. Musa, seorang pembunuh, diampuni. Daud, seorang pezinah, telah diampuni. Saulus yang membuat orang-orang Kristen dibunuh, diampuni. Kita semua dapat diampuni dengan cara yang sama.

Kedua, pengampunan datang melalui Yesus Kristus saja – tidak melalui penghukuman diri sendiri (self-punishment). Kamu tidak bisa melakukannya sendiri atau dilakukan oleh orang lain. Hanya Anak Allah yang bisa memberikan pengampunan. Dia menghadapi masalah kita (dosa) dan membayar hukumannya.

Ketiga, pengampunan tidak dapat dibeli atau ditawar. Ini merupakan hadiah, dan dapat menghilangkan perasaan bersalahmu selamanya. “Jika kita mengaku dosa-dosa kita, Allah yang setia dan adil akan mengampuni kita akan dosa-dosa kita dan menguduskan kita dari segala ketidakbenaran.” (1 Yoh. 1:9)

Keempat, pengampunan tidak terbatas. Pengampunan selamanya, abadi. Sulit untuk memahami apa artinya selamanya, tetapi ini adalah waktu yang lama. Sejauh timur dari barat, sejauh itulah Dia menghapus dosa-dosa kita dari kita. (Mzm. 103:12).

Bila kita memilih hidup dengan perasaan bersalah, kita telah membuat pilihan di mana Allah mengatakan hal tersebut tidak eksis. Perasaan bersalah mendorong orang kepada kegilaan, kemabukan, narkoba, kecanduan, penyiksaan, dan kondisi terkucilkan. Allah kita adalah Allah sedang membuat solusi-solusi, bukannya masalah-masalah. Pengampunan dapat membebaskanmu. Orang yang berpikir sehat akankah dia menghidupi kehidupan seperti seorang tawanan?

H. Norman Wright. Strong to the Core. Oregon: Harvest House Publishers.