Rasa Aman

Jangan khawatir tentang kehidupanmu, apa yang akan engkau makan atau minum, atau tentang tubuhmu, apa yang akan engkau pakai. Bukankah hidup lebih penting daripada makanan, dan tubuh lebih penting daripada pakaian?… Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan semua ini akan diberikan kepadamu juga. (Mat. 6:25,33)

Selama Great Depression di tahun 1930, tingkat pengangguran di Amerika membumbung tinggi. Laki-laki dan perempuan menunggu berjam-jam untuk memperoleh potongan-potongan roti atau semangkuk sup. Pekerjaan-pekerjaan yang kelihatannya aman, menghilang dalam 1 malam. Hari ini, tampaknya sekuritas pekerjaan menjadi bagian dari masa lalu. Para pekerja di semua tingkatan telah kehilangan pekerjaan mereka. Seberapa amankah pekerjaanmu? Jika kamu kehilangannya besok, bagaimanakah kamu dan keluargamu bertahan hidup? Apa yang kamu rasakan tentang dirimu sebagai manusia? Pernahkah pikiran-pikiran ini mempengaruhimu?

– Mereka tidak membutuhkanku lagi.

– Seseorang bisa bekerja lebih baik.

– Ini bisa saja terjadi karena aku terlalu tua.

– Aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Beberapa orang hidup di dalam ketakutan yang konstan dari pesan-pesan tersebut – bahkan ketika pekerjaan mereka mapan. Mereka bekerja lebih keras dan lebih lama daripada yang lain. Mereka memberikan 110%, sehingga waktu bagi keluarga kurang. Kita dapat berada dalam ikatan ini karena kita menggunakan pekerjaan sebagai rasa aman kita. Kita melupakan bahwa rasa aman kita adalah dalam Allah! Tentu, kita dapat mengkhawatirkan pekerjaan kita, tetapi kenapa tidak membuat pilihan lain melalui ayat hari ini? Apakah kamu pikir ada pilihan yang lebih baik dari yang lain?

Sumber: H. Norman Wright. Strong to the Core. Oregon: Harvest House Publishers.