PRIA DI GUNUNG

Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. Mzm. 147:5

Beberapa teolog telah berusaha untuk merampas Allah dari kehangatan kasih-Nya yang mendalam serta simpati-Nya kepada umat manusia, ciptaan-Nya. Tetapi kasih Allah tidak pernah berubah. Dia mengasihi kita sekalipun Dia tahu siapa kita sesungguhnya. Bahkan, Dia menciptakan kita karena Dia menginginkan makhluk-makhluk lain dalam rupa-Nya di alam semesta ini, yang kepadanya Dia bisa mencurahkan kasih-Nya, dan yang sebaliknya, makhluk itupun akan dengan sukarela mengasihi Dia. Dia menginginkan umat dengan kemampuan untuk berkata “ya” atau “tidak” di dalam relasi mereka dengan-Nya. Kasih tidak dapat dipuaskan dengan seseorang yang bergerak secara otomatis – seseorang yang tidak memiliki pilihan selain mengasihi dan menaati. Yang memuaskan hati Allah bukanlah kasih yang mekanis, melainkan kasih yang sukarela.

Jika bukan karena kasih Allah, tidak ada seorang pun dari kita yang punya kesempatan hidup di masa depan!

Beberapa tahun lalu seorang teman saya berdiri di puncak sebuah gunung di North Carolina. Jalanan menuju puncak pada masa itu dipenuhi dengan banyak tikungan, dan sangat sulit untuk melihat jarak jauh. Pria ini melihat 2 mobil berjalan mendekat satu sama lain. Lalu mobil ketiga meningkatkan kecepatan dan mulai berusaha untuk melewati salah satu mobil, sekalipun jaraknya tidak cukup untuk bisa melihat mobil lain yang berjalan mendekat di tikungan. Teman saya meneriakkan sebuah peringatan, tetapi si pengendara mobil itu tidak dapat mendengar, dan terjadilah sebuah tabrakan fatal. Pria yang berada di gunung melihat semuanya itu.

Seperti itulah Allah memandang kepada kita di dalam kemahatahuan-Nya. Dia melihat apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Dalam Kitab Suci Dia mengingatkan kita berulangkali mengenai persoalan-persoalan, masalah-masalah, penderitaan-penderitaan, dan penghakiman-penghakiman yang akan terjadi. Banyak kali kita mengabaikan peringatan-peringatan-Nya.

Allah melihat dan mengetahui semuanya. Tetapi kita terlalu dibatasi dengan situasi-situasi kita untuk bisa melihat “gambaran besar”-nya.

Disadur dari Buku: Unto the Hills- Billy Graham