Porsi yang Cukup: Manis & Menghibur

Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1 Tim. 6:8)

Marilah kita membuat diri merasa cukup dengan porsi benda-benda fana yang Allah karuniakan. Allah adalah Allah yang berdaulat, dan kita patut merasa cukup dengan pemberian-Nya, meskipun Ia memberi lebih banyak kepada orang lain. Tuhan yang baik menjawab: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?… Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:13-15). Apabila orang lain memperoleh penghasilan yang lebih baik dan dibuat lebih leluasa, Allah adalah Allah yang berdaulat, dan akan memberi menurut kerelaan kehendak-Nya. Kita tidak berhak atas apapun dan oleh karenanya segala sesuatu sepatutnya diterima dengan rasa cukup. Jika seorang mendapat makanan atas beban biaya orang lain, tentunya sangat tidak sopan jika ia bersungut-sungut dan tidak menyukai makanannya. Sesungguhnya kita semua dipelihara secara gratis dan sepatutnya merasa puas dengan apa yang ada di tangan kita. Allah di dalam hikmat-Nya memahami betul seberapa besar bagian yang terbaik bagi kita. Sang gembalalah, dan bukan domba, yang memilih padang rumput penggembalaan. Biarkan Allah memberikan apa yang cocok dengan kondisi kehidupan Anda. Allah mengaruniakan porsi yang sanggup kita tanggung.

Rasa cukup itu sendiri adalah pemberian Allah dan merupakan satu berkat besar. Tatkala pemikiran kita  diserasikan dengan kondisi kita, maka berkat-berkat duniawi kita menjadi lebih manis dan lebih menghibur. Kebahagiaan kita tidak bergantung pada kelimpahan, melainkan dari rasa cukup (Luk. 12:15). Semua kepedihan rohani bisa merupakan akibat dari perang antara diri dengan kesadaran nuraninya, atau perang antara afeksi dan kondisi hidupnya. Ada kasih yang sama besar di dalam porsi yang lebih sedikit maupun yang lebih banyak. Afeksi yang sama ditunjukkan kepada anak yang bungsu, sekalipun ia tidak mendapat tunjangan sebesar anak sulung. Sang ayah mengasihi dia juga. Demikianlah anak-anak Allah dapat berkata, “Allah mengasihi aku, meskipun Ia mengaruniakan kepada orang lain lebih banyak daripada yang dikaruniakan kepadaku.” Cukupkanlah dengan apa yang menjadi porsi Anda dalam providensi Allah yang penuh kemurahan.

Thomas Manton (1620-1677), Works, I:164-165; Richard Rushing – Voices from the past, Momentum 2017