Penderitaan dari Allah

Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. (2 Tim. 2:13)

Di masa penderitaan, Allah membuat diri-Nya dikenal umat-Nya. Di dalam Firman kita mendengar tentang Allah, tetapi di dalam penderitaan kita memandang Dia [Ayb. 42:5]. Kemakmuran adalah inang pengasuh atheisme. Ketika kita sedang makmur, indra kita terhadap Allah terkikis sedikit demi sedikit. Di dalam penderitaan, jiwa dilepaskan dari kuasa pemikat duniawi dan pikiran kita menjadi lebih serius, jelas, dan mampu menerima pencerahan ilahi. Semakin bening kacanya, semakin banyak menerima pancaran sinar terang.

Orang fasik dengan kecongkakan hatinya tidak dapat mengenal Allah. “Siapakah Tuhan?” tanya Firaun. Bahkan orang saleh pun kemampuannya rendah untuk memahami Allah, tetapi melalui tongkat didikan, Ia membuat umat-Nya mengenal Dia bagi penghiburan mereka. Ia menyiapkan penderitaan sedemikian rupa bagi umat-Nya, sehingga mereka dapat mengenal kasih-Nya.

Musa tidak pernah melihat Allah sejelas ketika Ia turun di dalam awan, dan itu menjadi cara yang Allah pakai untuk membuat diri-Nya dikenal oleh para orang kudus-Nya. Ia menempatkan mereka di lekukan batu dan mengungkapkan nama-Nya kepada mereka: Tuhan Allah, penuh rahmat dan kasih sayang. Umat Allah baru menyadari karakter Allah di dalam masa sengsara mereka; kekudusan-Nya, keadilan-Nya, kesetiaan-Nya, kemurahan-Nya, dan kecukupan pada diri-Nya sendiri.

Semakin Daud didera derita, semakin nyata kesetiaan Allah. Kesetiaan Allah paling nyata dialami pada saat penderitaan karena pada saat itulah kita paling serius berdoa. Tatkala kakak kita Esau mendatangi kita, sepatutnyalah kita bergumul dengan kakak sulung kita, Yesus, dan tidak melepaskan-Nya pergi sebelum Ia memberkati kita. Di masa kesesakan, pagi-pagi kita sudah bersama Allah di dalam doa. Di saat kemakmuran, kita berdoa namun kurang peduli atas jawaban-jawaban doa. Sebaliknya di masa kesesakan, kita akan mendesak Allah untuk menjawab doa-doa kita. Allah tidak pernah kurang dari yang dinyatakan oleh firman-Nya. Penderitaan merupakan dapur api tempat menguji iman umat-Nya dan untuk menyaksikan kesetiaan Allah terhadap janji-janji-Nya.

Sumber: Thomas Case (1598-1682), Select Works, A Treatise of Afflictions, hlm. 57; Richard Rushing – Voices from the past