Keluarga Bahagia

Bab 1 Stephen Tong bicara mengenai prinsip keluarga Kristen. Buku ini diawali dengan sebuah pemahaman mengenai krisis terbesar di dunia. Bukan bom atom, bukan bom hidrogen, bukan perang nuklir, tetapi cinta sejati yang meninggalkan keluarga-keluarga. Bila tidak ada cinta sejati dalam keluarga, maka umat manusia akan mengalami kerusakan seluruhnya dan kerohanian yang mati. Maka sangat penting agar setiap manusia memiliki keluarga yang memiliki cinta sejati agar krisis itu dapat reda. Bagaimana caranya? Melalui Allah sendiri. Allah adalah dasar dari berdirinya keluarga manusia. Tong memberikan sebuah istilah yaitu “Keluarga Allah” yang terdiri dari 3 pribadi: Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus yang bersatu dan saling mengasihi. Tong menjelaskan bahwa Allah adalah pusat dari pernikahan itu sendiri. Jika mau pernikahan yang baik, maka carilah di dalam Allah.

Setelah mendasarkan pernikahan di dalam diri Allah, Tong menjelaskan bagaimana manusia perlu menghargai gender. Seringkali orang tidak menghargai kaum wanita. Wanita sering dijadikan mesin untuk melahirkan anak dan mesin bekerja. Di Irian Jaya, wanita dapat ditukar dengan hanya beberapa ekor babi saja. Kepala suku bisa punya 150 istri, karena makin banyak istri makin banyak tenaga kerja dan uang. Mereka memperbudak wanita dan menghina kedudukan wanita. priadan wanita sama berharganya di hadapan Tuhan. Tidak ada yang lebih hina atau rendah. Hanya saja perlu menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik sesuai yang Tuhan mau. Selanjutnya Tong menekankan agar relasi keluarga Kristen punya pengendalian diri, khususnya terhadap seks. Self-control is the highest wisdom of living on the earth. Nafsu tanpa dikuasai dengan kasih adalah binatang, dan kasih yang tidak ada nafsunya adalah binatang. Setiap manusia perlu jadi manusia yang beres dan memiliki keluarga yang beres di hadapan Tuhan. Manusia sebagai ciptaan Tuhan harus melihat keluarga secara terpusat kepada Allah.

Bab 2, Tong menjelaskan tentang alasan pernikahan Kristen. Adam memang membutuhkan Hawa. Ketika Adam tidur, Allah mengambil tulang rusuknya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Dari sini Tong mengatakan tanpa pengorbanan maka tidak ada orang yang bisa jadi pemimpin. Tanpa pengorbanan, Adam tidak bisa jadi kepala keluarga. Demikian juga Yesus Kristus yang mengalirkan darah untuk gereja. Beberapa alasan kenapa tidak baik manusia hanya seorang diri:

  • Manusia diciptakan dalam sifat relatif. Manusia membutuhkan relasi dengan manusia lainnya secara relatif. Akan tetapi bila seorang diri, manusia bisa memutlakkan dirinya sendiri.
  • Manusia diciptakan sebagai bagian dari keseluruhan. Tidak ada orang yang dapat melakukan sesuatu semuanya sendiri. Manusia membutuhkan orang lain.
  • Manusia diciptakan untuk menolong dan ditolong.
  • Lalu Tong melanjutkan mengenai alasan-alasan menikah. Dimengerti secara negatif maupun positif. Secara negatif Tong menyatakan:

  • Menikah bukan karena usianya sudah sampai. Kita menikah bukan karena umurnya sudah sampai. Ini sangat relatif. Orang Mongolia pada usia 15 tahun sudah bisa jadi nenek, ada yang umur 8 tahun sudah matang dan bisa melahirkan anak.
  • Menikah bukan karena orangtua pasangan perlu cucu. Desakan dari orangtua dan tidak sabar melihat anaknya menikah. Tong katakan Daripada salah menikah, lebih baik menunda menikah.
  • Menikah bukan karena sudah terlanjur. Menikah bukan karena diperintah oleh bayi di perut, supaya tidak malu.
  • Menikah bukan karena memerlukan seks.
  • Sedangkan alasan pernikahan secara positif Tong menyatakan:

  • Rencana dari penciptaan Allah. Allah menginginkan manusia untuk menikah, saling mengasihi, beranakcucu dan bertambah banyak.
  • Pentingnya relasi kasih. Pernikahan adalah pengorbanan. Alkitab mengatakan bahwa setiap orang harus menghormati pernikahan. Persatuan melalui pernikahan merupakan lambang persatuan antara gereja dan Kristus.
  • Bab 3, mengenai urutan penting dalam keluarga. Di alam semesta ada chain of authority yang sudah Tuhan tetapkan dan itu harus dilakukan agar kehidupan ini menjadi baik. Chain of authority/urutan/ordo adalah dasar keharmonisan. Paulus mengatakan Kristus adalah kepala pria. Pria adalah kepala wanita. Allah Bapa adalah kepala Kristus. Kristus adalah kepala gereja. Gereja adalah tubuh Kristus. Pemerintah adalah kepala rakyat. Orangtua (Ayah dan Ibu) adalah kepala anak. Urutan seorang pribadi adalah kebenaran yang menguasai pikiran, emosi, dan perilaku tubuh (seks, dll.). Seluruh Kitab Suci memberikan pengertian begitu menyeluruh dan jelas mengenai the chain of authority of the universe, otoritas yang berurutan dalam alam semesta dari Tuhan Allah. Keluarga bahagia adalah ketika pria dan wanita mengerti ordo ini. Keluarga harus memiliki prinsip: Pria patuh kepada Kristus, wanita patuh kepada pria yang patuh kepada Kristus, anak-anak patuh kepada pengajaran Ayah dan Ibu yang mematuhkan diri pada Kristus. Dengan demikian, keluarga bisa bahagia dan harmonis.

    Bab 4, tentang menghormati perkawinan. Pembahasan ini didasarkan dari Ibrani 13:4: “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” Melalui dasar ini, Tong menjelaskan bahwa setiap orang harus menghormati pernikahan. Pernikahan bukanlah hal yang najis. Seks bukan kejahatan, seks adalah suatu bahagia yang Tuhan ciptakan dalam diri manusia. Akan tetapi karena dosa, pernikahan dan seks sudah kehilangan esensi yang sebenarnya. Perbedaan mengenai pernikahan Kristen dan non-Kristen ada pada sumber cinta pernikahan itu sendiri. Sumber cinta pernikahan Kristen adalah kasih Kristus yang rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia berdosa. Sedangkan sumber cinta pernikahan non-Kristen ada 2 yaitu kecantikan obyek yang mereka lihat dan diri mereka sendiri yang menjadi sumber. Sumbernya adalah dari pria dan wanita itu sendiri, bukan kasih Kristus. Pernikahan Kristen adalah lambang Kristus dengan gereja-Nya. Cinta adalah mengorbankan diri demi menyempurnakan yang lain. Di mana ada pengorbanan, di sana ada cinta.

    Bab 5, tentang harmoni perbedaan pria dan wanita. Tong menjelaskan pebedaan mendasar dan menyeluruh dari penciptaan pria dan wanita. Persamaan di antara mereka berdua adalah sama-sama mulia. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Tong menyatakan bahwa keseimbangan ditandai dengan perbedaan. Keseimbangan adalah keadilan sedangkan perbedaan adalah ciptaan dengan potensi yang berlainan. Melalui Efesus 5:22, kita bisa melihat banyak sekali perbedaannya:

  • Pria lebih mementingkan otoritas, wanita lebih mementingkan cinta kasih. Pria lebih senang dihormati, perempuan lebih suka dikasihi. Maka perintahnya “Hai istri, taatilah suamimu dan hai suami, cintailah istrimu.” Dua hal ini menjadi ciri khas sekaligus kelemahan pria dan wanita.
  • Pria lebih rasional, wanita lebih emosional. Pria lebih banyak berpikir, wanita lebih banyak merasa. Pria dan wanita harus saling mengerti.
  • Pria lebih menitikberatkan karier, wanita lebih menitikberatkan keluarga. Dua-duanya penting dalam keluarga. Tong mengingat kalimat Sokrates yang sangat baik: “Hai orang Athena, engkau menggali setiap inci tanah untuk mengambil semua emas, tetapi engkau kehilangan anak-anakmu, apakah untungnya?” Jika uang banyak tapi anak tidak terurus, itu merupakan kerugian.
  • Pria lebih fokus ke hari depan, wanita tidak mau melupakan masa lampau.
  • Pria menitikberatkan kepada investasi, tapi wanita ingin jaminan dalam tabungan.
  • Pria lebih berpikir secara menyeluruh dan luas, wanita lebih detail dan secara dekat.
  • Pria lebih bersifat analisator, wanita lebih bersifat intuitif. Pria menilai berdasarkan data yang terjadi, wanita menilai berdasarkan intuisinya.
  • Menutup bab ini, Tong menjelaskan manfaat dari pernikahan. Pertama, karakter pria dan wanita yang berubah dari penerima jadi pemberi. Kedua, dari sifat yang egosentris menjadi sifat yang altruis karena hidup bersama-sama terus. Ketiga, baik pria dan wanita belajar untuk berkorban demi menghidupkan pasangannya.

    Bab 6, bicara soal ordo (urutan), sepasang suami-istri Kristen. Tong fokus kepada peran pria terlebih dahulu. Pria itu sebagai kepala dari keluarga. Seseorang yang melindungi dan memelihara keluarganya. Tong memberi contoh dengan fisik pria yaitu diberikan punggung lebih lebar untuk mampu dan berani menanggung beban berat dan besar. Bagaimana seorang suami Kristen menjadi kepala bagi keluarganya? Hidup takut akan Tuhan. Itulah dasar segala otoritas untuk memimpin keluarganya. Sedangkan wanita adalah makhota suami. Tidak ada satu orang pria pun yang bisa menerima kalau istrinya bersikap lebih keras terhadap suami di hadapan umum. Tubuh pria dibuat dengan gerak-gerik menyatakan otoritas, sedangkan tubuh wanita dibuat anggun dan lembut untuk melayani suami. Maka jika pria bicara pelan dan lemah lembut, sedangkan wanita bicara keras dan teriak-teriak, maka tidak cocok.

    Terakhir bab 7, Tong membahas tentang kendala dan kunci kebahagiaan. Pernikahan tidak selalu mulus dan lancar. Ada banyak kendala yang dihadapi, akan tetapi ada juga kunci untuk menghadapi kendala tersebut yang dapat membawa kepada kebahagiaan. Keluarga itu sangat penting, Tong mengambil contoh filsafat Confucius:
    Di dalam 7 tahap manusia menggarap sampai akhirnya memperdamaikan seluruh dunia mulai dari hal materi, yaitu suatu penanganan materi, yang disebut penganalisaan alam, baru menuju makin lama menuju moral dan pribadi; setelah itu beres, maka 3 hal yang harus dilakukan, yaitu: 1. Keluarga, 2. Negara, dan 3. Seluruh masyarakat dan seluruh dunia diperdamaikan. Seorang pemerintah haruslah memerintah dahulu keluarganya; seorang yang memperdamaikan seluruh dunia, mendamaikan diri dahulu di keluarganya.

    Jika keluarga tidak beres, maka tidak mungkin hal lain beres dan mencapai kebahagiaan yang sungguh-sungguh. Dari sini juga kita bisa belajar bahwa membangun keluarga yang harmonis bukanlah hal yang mudah dan tidak ada kesulitan. Banyak pasangan yang setelah bulan madu, mulai ribut dan bertengkar. Beberapa kesulitan yang Tong sebutkan:

  • Cinta yang kurang seimbang. Harapan setiap suami-istri adalah dapat saling mengasihi. Akan tetapi realita yang terjadi seringkali timpang. Suami mengasihi istri, istri kurang cinta. Istri mengasihi suami, suami kurang cinta. Perlu diseimbangkan dengan mengerti cinta kasih Tuhan yang sangat besar. Sumber cinta suami-istri adalah Allah sendiri.
  • Fakta cara mengajar anak yang berbeda. Setiap keluarga memiliki tradisi yang berbeda. Ada kalimat “Sebelum menikah semua ajaib, setelah menikah semua aneh.” Kenapa? Karena banyak perbedaan. Perbedaan itu menimbulkan benturan tetapi keluarga yang kuat akan mengatasinya.
  • Kerutinan dan cinta yang perlu waktu panjang. Suami-istri perlu mengingat untuk mengucap syukur atas kebaikan Tuhan atas hidup mereka. Bersyukur atas kebaikan yang diberikan suami-istri dan ingat kebaikannya, maka kasih itu bisa terus ada dan berkembang. Ingat bahwa hidup suami-istri tidak selamanya, maka perlu menggunakan waktu yang ada untuk saling mengasihi.
  • Dunia penuh pencobaan. Pencobaan bukan hanya ada di dunia, tapi juga keluarga. Maka keluarga harus kokoh, kuat, hangat, dan harmonis. Supaya ketika cobaan itu datang, keluarga bisa mengatasinya. Keluarga adalah tempat paling indah, sehingga ketika pasangan (suami/istri) pulang, dia dapat merasakan tidak ada tempat yang lebih baik daripada keluarga. Keluarga harus jadi tempat dimana manusia menikmati privacy, keindahan, ketenangan, dan kemanisan di tengah dunia penuh pencobaan.
  • Bahaya Mid-Life Crisis. Pernikahan yang mencapai umur sekitar 10-20 tahun, masuk ke dalam masa krisis usia pertengahan. Pria mulai masuk 40 tahun, sudah memperoleh kestabilan dalam berbagai bidang. Mid-Life crisis membuat pria bosan segala sesuatu termasuk istri dan keluarganya. Bagi wanita, fakta seks merupakan hal yang kejam karena dia tidak lagi muda dan muncul kecemasan dalam dirinya. Dia tidak punya daya saing dengan wanita muda lainnya. Dia mau menguasai suaminya dengan ketat yang justru jadi masalah.
  • Sakit dan Tua. Ada pasangan yang dapat meninggalkan pasangannya ketika pasangannya sakit dan tua. Ada pendeta yang istrinya sakit puluhan tahun, tapi pendeta ini tetap setia melayani. Waktu istrinya menangis, dia begitu sedih dan bersyukur dapat kesempatan melayani istrinya. Ada orang yang melihat pasangannya sakit dan tua, kemudian benci kepada pasangannya. Itu tidak bertanggung jawab.
  • Perubahan Status Ekonomi. Waktu miskin, suami-istri menjadi kawan yang paling akrab. Begitu kaya? Akrab dengan berhala yang bisa dihasilkan uang. Ini adalah bahaya besar. Perlu persiapan untuk hidup miskin bersama dan kaya bersama. Sama-sama menanggung kesulitan yang ada. Maka dari itu Tong menasihati agar suami-istri kompak dan jangan suka membandingkan suami-istri dengan orang lain.
  • Terakhir, kunci kebahagiaan adalah pria dan wanita harus jaga penampilan, jaga perkataan, jaga relasi, jauhkan oknum yang mengganggu pernikahan, dan pikirkanlah kebahagiaan keturunan.

    Sumber: Keluarga Bahagia, Penerbit Momentum