Karakter

Ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Rom. 5:4

Pernahkah kamu penasaran bagaimana karakter seseorang terbentuk? Apakah kita terlahir dengan karakter itu, apakah karakter diwariskan, atau berkembang begitu saja? Pertama, lihatlah definisi karakter. Ini adalah kombinasi dari ciri-ciri dan pembawaan yang membentuk sifat seseorang. Ini termasuk kualitas kejujuran dan keberanian. Ini juga mencakup reputasi, standar etika, dan prinsip-prinsip. Inlah yang membuat masing-masing orang berbeda. Para pengikut Yesus dipanggil untuk menjadi orang yang bertahan dan menjadi berbeda dalam cara yang positif.

Bagaimana karakter dapat berkembang? Dalam buku Just So Stories, Rudyard Kipling menjelaskan bagaimana unta memperoleh punuknya (Humph). Binatang ini memiliki watak yang tidak terlalu baik. Dia punya perilaku yang membuatnya tidak dapat bekerja sama dengan binatang lain. Ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu, semua yang dikatakan adalah Humph! Binatang lain komplein pada jin dan mengeluh siapa yang akan mendekati unta untuk bekerja sama. Semua dijawab oleh unta dengan “Humph!” Akhirnya setelah mendengar kata itu terus-menerus, akhirnya jin itu memberikan sebuah (humph / punuk) pada punggungnya.

Ketika kamu mengatakan atau melakukan sesuatu yang cukup lama, ini menjadi habit / kebiasaan. Ini dapat menjadi kebiasaan yang baik atau yang negatif. Dan itulah yang membentuk karakter. Plutarch mengatakan karakter sederhananya adalah “kebiasaan yang terus berkelanjutan.” Kita dapat berakhir seperti unta itu: membawa kebiasaan kita sampai seluruh sisa hidup kita habis.

Salah satu penginjil terkenal, D.L. Moody memiliki pemikiran menarik tentang karakter. Dia katakan, karakter adalah bagaimana ketika kita di dalam gelap. Apa yang membentuk karaktermu?

_Sumber: H. Norman Wright. Strong to the Core. Oregon: Harvest House Publishers._