Imajinasi

Aku telah menetapkan syarat bagi mataku. (Ayub 31:1)

Kita perlu bekerja keras untuk menaklukkan imajinasi kita di bawah ketaatan kepada Kristus (2 Kor. 10:5). Imajinasi, jika tidak dikendalikan, menjadi sesuatu yang liar dan ganas. Bahkan tatkala kita sedang memikirkan hal-hal yang baik sekalipun, masih tersisa penyakit khayalan di dalam diri orang-orang terbaik sekalipun. Mereka yang dikendalikan oleh imajinasi / khayalan hidup lebih menyerupai binatang daripada manusia. Imajinasi akan menghanguskan sebelum kita menyadarinya. Ayub menyadari akan hal ini dan itulah sebabnya ia “telah menetapkan syarat bagi matanya.” Kita seharusnya dapat menjadikan imajinasi sebagai pelayan kita dalam hal-hal rohani. Kita wajib berpikir sendiri: “Apakah ini suatu kesenangan yang kekal & membawa kehormatan sejati?” Allah telah menyampaikan kepada kita hal-hal sorgawi dalam istilah duniawi, dengan demikian kita sepatutnya mengikuti pimpinan Allah dalam hal-hal tersebut.

Allah menyajikan sorga dalam istilah perjamuan, dan penyatuan kita dengan Dia dalam istilah perkawinan. Betul, dan Kristus sendiri, disebut dengan nama-nama yang indah / menghibur, baik di sorga maupun di bumi. Tuhan menyebut neraka dengan istilah apapun yang mengerikan / menyiksa. Di sinilah tersedia lapangan luas untuk ditelusuri oleh imajinasi, tidak hanya tanpa terlukai, tetapi dengan hasil panen raya manfaat rohani. JIka kebakaran saja sudah cukup mengerikan, bagaimana dengan api neraka? Jika penjara gelap bawah tanah menjijikkan, bagaimana dengan kegelapan kekal? Jika persekutuan di antara handai taulan begitu menakjubkan, apalagi pertemuan kita bersama nanti di sorga? Kitab suci dengan istilah-istilah demikian akan menolong iman sekaligus imajinasi kita. Imajinasi yang dikuduskan menjadikan segala sesuatu yang dicipta sebagai tangga menuju sorga.

Oleh karena masa kanak-kanak penuh imajinasi / khayalan, maka ini merupakan saat terbaik untuk menanamkan kasih akan kebaikan & penolakan akan kejahatan. Memanfaatkan imajinasi yang sederhana, anak-anak belajar membenci neraka yang diwakili oleh api dan kegelapan. Sangatlah penting untuk mengembangkan imajinasi bagi penggunaan yang kudus. Bukankah perjamuan kudus membantu mengasah kepekaan jiwa dan iman kita dengan imajinasi? Imajinasi dapat sangat merusak jiwa, tetapi juga dapat memberikan manfaat besar.

Richard Sibbes (1577 – 1635), Works, I;180-185; Richard Rushing – Voices from the past