Hidup Oleh Iman

Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. (2 Kor. 5:7)

Berapa banyak kenalan Anda yang benar-benar hidup oleh iman? Apakah Anda hidup oleh Iman? Apa yang Anda pikirkan pagi ini? Apa nutrisi bagi hati Anda? Apakah hiburan dan kuliner lebih menyukakan daripada perenungan Anda akan hal-hal sorgawi? Sudahkah Anda menyediakan setengah jam, atau 15 menit demi pelatihan iman Anda? Apakah Anda mengabaikan kewajiban yang sangat dibutuhkan ini? Apakah Anda telah membuat percuma satu hari, satu minggu, atau satu bulan, dan mengakibatkan jiwa Anda kelaparan akan makanan dan minuman ini? Pulihkanlah diri Anda sebelum menghidupi kehidupan; tidak ada kata terlambat untuk mempelajarinya!

Jika Anda seorang raja, atau penguasa, belajarlah untuk hidup. Tidaklah penting betapa terhormatnya, makmurnya, atau senangnya hidup Anda, semua itu bukanlah kebahagiaan sejati. Kesenangan sejati hanya ditemukan di dalam kehidupan beriman. Kehidupan beriman ini tersedia bagi semua orang. Orang paling miskin atau paling tidak berpendidikan, dapat masuk ke sorga melalui jalan ini. Orang miskin mungkin tidak memiliki peluang menjadi makmur atau terhormat, tetapi mereka dapat menghidupi kehidupan yang benar-benar bahagia melalui iman. Mereka dapat menjalani hidup yang luar biasa seperti para raja.

Barangsiapa berhasrat meningkatkan kualitas perjalanan musafirnya menjadi lebih membahagiakan, iman merupakan seni hidup dengan baik, sehat, dan berumur panjang. Hidup tidak dihitung dari banyaknya waktu, tetapi dari nilai keceriaannya. Uang tidak dihitung dari jumlah lembarnya, tetapi dari nilai angka yang tertera di atas lembarannya. Satu minggu hidup sehat walafiat jauh lebih baik daripada hidup sakit-sakitan setahun. Bukankah 1 jam dalam kecerahan matahari lebih baik daripada 1 hari dalam kemuraman kegelapan?

Menjalani hidup yang baik sama dengan hidup 2 kali. Orang baik melipatgandakan dan meningkatkan hari-hari hidupnya. Satu hari yang dijalani seturut dengan aturan iman lebih baik daripada kesia-siaan seumur hidup yang fana. Seorang manusia dapat hidup dalam kepuasan atas hidupnya sendiri maupun orang lain dalam jangka waktu yang singkat, sama baiknya dengan mereka yang berumur panjang. Ada yang berumur panjang namun hidup dengan muram dan renta, sedang yang lain menjalani waktu dengan ceria. Menjalani hidup dengan iman memampukan kita menikmati bagian kita sebagai bagian yang terus berkelanjutan, bagian raja, sepanjang masa hidup kita.

Samuel Ward (1572-1643), Semons, hlm. 36-40; Richard Rushing – Voices from the past, Momentum 2017