Hidup dengan Iman

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Ams. 3:5)

Di masa penderitaan kita belajar pentingnya menjalani hidup dengan iman, bukan dengan perasaan atau cara pandang sendiri. Allah mengajarkan hal ini melalui ketidakpastian perubahan-perubahan dalam kehidupan: hari ini ada harapan, namun besok mungkin ada di titik kritis kematian; kabar baik hari ini, dan kabar buruk besok; kenyamanan di sini, dan teror yang mendera jiwa di sana. Oh pasang surutnya harapan-harapan dunia! Betapa menyedihkannya kehidupan yang terpecah belah oleh perasaan hati! Kehidupan demikian lebih buruk dari kematian itu sendiri. Ini merupakan kehidupan yang naik turun di antara harapan dan ketakutan, dipermainkan antara kemungkinan begini dan begitu. Mereka laksana pelaut yang terserang badai di tengah lautan. Mereka terlempar ke atas dan lalu terhempas jatuh ke bawah ke kedalaman. Jiwa mereka luluh karena kesesakan. Mereka terhuyung-huyung ke sana kemari dan sempoyongan seperti orang mabuk dan sangat kebingungan serta putus asa.

Demikianlah Allah mengajarkan pentingnya memiliki kehidupan beriman lewat kekecewaan-kekecewaan kita. Oh betapa pahitnya kekecewaan orang yang tidak memiliki topangan iman! Iman tidak pernah mengecewakan; Allah senantiasa menjadi pilihan yang lebih baik daripada harapan kita (1 Tim. 6:17). Orang yang memiliki hidup yang tidak berubah hanyalah mereka yang dengan iman dapat mengandalkan Allah yang tidak berubah. Kita sudah terlalu lama mengandalkan hidup atas dasar perasaan dan daya nalar. Dan menambal sulam hidup di antara iman dan perasaan sama sekali bukanlah kehidupan beriman. Jika kita tidak sepenuhnya hidup beriman, maka kita sama sekali tidak beriman. Allah mengizinkan kita dicobai dan dibuat jengkel oleh penyebab-penyebab kedua, dan setelah itu, tatkala kita telah menghabiskan segala sesuatu demi pengobatan yang sia-sia, barulah kita akan berpaling kepada Kristus. Melalui perubahan-perubahan dan kekecewaan lahiriah, Allah mengajarkan kepada umat-Nya keunggulan dari kehidupan beriman. Celakanya, manusia terbaik pun hanyalah seonggok tanah liat yang bernafas! Dengan memercayai Allah belaka, maka manusia dapat berbahagia. Apakah ada hal yang terlampau sulit bagi Allah, Sang Pencipta? Dan sebagaimana Ia mampu, Ia juga berkehendak mewujudkannya. Manusia dapat terbukti tidak setia, tetapi Allah mustahil tidak setia!

Sumber: Thomas Case (1598-1682), Select Works, A Treatise of Afflictions, hlm. 43-48; Richard Rushing – Voices from the past