Ciri Murid Kristus

Lukas 9:57-62

Beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di koran yang berjudul “Seberapa Islamkah negara-negara yang disebut negara Islam?” Parameter yang dipakai adalah kesesuaian hidup masyarakat di negara itu dengan perintah Allah di Al-Quran. Hal yang pertama kita ingat tentu saja Arab Saudi dan yang kedua adalah Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Dua negara ini memang menjadi perhatian. Indonesia ternyata ada di peringkat 128. Sementara Arab Saudi, sumber dari Islam, berada di posisi 48. Nomor 1 adalah Selandia Baru. Memang Selandia Baru bukan negara Islam.

Jika kita memakai alat ukur dari Alkitab untuk mengukur kita adalah murid sejati atau tidak, apakah kita bisa disebut murid Kristus yang sejati atau tidak? Mikhail Gorbachev pernah mengatakan, “Di dalam hatiku tidak pernah menjadi seorang komunis.” Kita tahu bahwa Uni Soviet hancur di tangan dia. Bagaimana mungkin sebuah negara komunis dipimpin oleh seorang Presiden yang sama sekali tidak mempunyai komitmen terhadap komunisme? Jika kita sebagai orang Kristen tidak mempunyai komitmen sebagai gereja yang sejati, maka di zaman kita gereja akan hancur. Jika kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus, maka mau tidak mau ada tuntutan tertentu yang harus digenapi oleh kita. Hari ini saya mau mengajak kita memikirkan beberapa ciri murid Kristus terkait teks yang kita baca.

Konteks dari ayat yang kita baca adalah Yesus ada dalam perjalanan menuju Yerusalem. Ketika melewati Samaria, Yesus ditolak. Ketika Yesus tiba di Yerusalem, Ia akan ditangkap dan disalibkan. Dalam konteks ini tepatlah perkataan Yesus bahwa di dalam dunia ini serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Ketika Yesus datang ke dunia, sulit sekali bagi Dia untuk memperoleh penerimaan. Yesus Kristus menginginkan ada persekutuan dengan umat pilihan-Nya sehingga Dia sering berkata, “Aku akan pergi untuk menyediakan tempat bagimu supaya di mana Aku berada, di situpun kau berada.” Maka dalam konteks ini datang orang pertama yang berkata akan selalu mengikut Yesus ke manapun Yesus pergi. Harusnya Yesus bersikap positif terhadap proposal ini, tetapi Yesus memberikan jawaban yang sangat negatif. Masalah dalam proposal tersebut bukan terletak pada perkataannya, tetapi pada apa yang tidak dikatakan olehnya. Ada agenda tersembunyi ketika dia mengatakan hal itu. Pada saat itu Yesus sudah mulai terkenal, bahkan orang-orang sudah mulai mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, yang akan meruntuhkan kerajaan Romawi. Mereka merasa kalau dekat dengan Yesus maka akan memperoleh keuntungan tertentu. Apa yang manusia sembunyikan, tidak tersembunyi oleh Allah. Yesus seolah-olah mengatakan, “Kalau kamu mau ikut Aku kemanapun Aku pergi, hitung baik-baik harga yang harus kamu bayar. Lihat, Aku baru saja ditolak di Samaria. Nanti di Yerusalem Aku akan disalibkan.” Ciri pertama orang yang disebut sebagai murid Kristus adalah orang yang rela untuk membayar harga ketika mengikut Kristus. Yesus menginginkan kita menjadi pengikut-Nya tetapi di saat yang sama juga adalah Allah yang jujur. Dia tidak memaksa kita. Tidak ada yang akan berkurang pada Kristus kalau kita menolak Kristus. Ketika kita menerima Kristus sebagai Juruselamat, juga tidak ada yang bertambah pada Kristus. Keputusan kita yang bebas ini selalu mempunyai konsekuensi.Yesus mengatakan bahwa ada harga yang harus dibayar ketika kita mengikut Dia. Harga itu adalah salib. Apakah itu artinya ketika kita dipilih untuk menjadi pengikut Kristus berarti kita dipilih untuk menderita dan tidak ada sukacita sama sekali? Setiap kali kita bicara mengenai orang Kristen, kita bicara mengenai harga yang dibayar. Namun salib itulah yang memurnikan sukacita kita. Dia bukan Allah yang ingin menyingkirkan sukacita kita. Di Alkitab begitu banyak panggilan untuk sukacita. Yesus ingin kita menikmati sukacita yang sejati.

Bandingkan cerita orang kaya di Lukas 18 dan 19. Seorang muda kaya di pasal 18 bertanya kepada Yesus apa yang harus dilakukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah supaya mengalami semua sukacita yang disediakan Allah. Yesus menjawab, “Mengasihi Allah dan sesama.” Orang muda itu yakin sudah melakukannya sejak kecil. Namun Yesus menyuruh menjual semua hartanya dan bagikan kepada orang miskin, lalu ikut Yesus. Orang muda itu pulang dengan bersedih sebab hartanya sangat banyak. Orang ini terikat cinta kepada apa yang dimilikinya. Berbeda dengan Zakheus. Zakheus memeras orang sebangsanya demi kenikmatan hidup. Namun setelah perjumpaan dengan Kristus, Zakheus bertobat dan berjanji akan mengganti empat kali lipat orang yang diperasnya dahulu. Zakheus adalah kepala pemungut pajak yang hidup dengan cara yang curang dan orang-orang di bawah dia juga menikmati hidup dengan cara yang curang. Kalau dia kembali menjadi kepala pemungut pajak, dia akan mengawasi dan menghalangi orang-orang di bawahnya supaya tidak berlaku curang lagi dan mendapatkan pendapatan dari hal-hal yang jahat. Karena itulah hidupnya sejak hari itu terancam. Tetapi kita mendapati orang ini sungguh bersukacita meskipun apa yang harus dia tanggung bisa disebut sebagai salib. Ini mengajarkan bahwa benar kita diciptakan dengan tubuh dan jiwa dan kita bertahan hidup melalui proses konsumsi, tetapi kita hanya bisa menikmati hidup jika kita berelasi dengan Allah. Ada seorang jemaat yang bersaksi mengenai ayahnya. Waktu ayahnya sakit dan hampir meninggal, ayahnya bertanya satu hal, “Setelah saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat saya, banyak hal yang saya minta kepada Tuhan dikabulkan. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa saya jelaskan, mengapa Tuhan memberikan segala sesuatu tetapi tidak memberi waktu untuk menikmati semua yang ada di tangan saya?” Memiliki segala sesuatu berbeda dengan menikmati segala sesuatu. Kita bisa punya semuanya, tapi belum tentu kita bisa menikmati semuanya. Firman ini berkata kita bisa menikmati hidup ini bukan dengan keterikatan kita pada berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi keterikatan kita kepada Allah sebagai sumber dari segala berkat yang kita punya. Ketika seseorang datang kepada Yesus Kristus berkata ingin mengikut Yesus kemanapun Ia pergi, namun agenda hatinya adalah untuk mendapatkan sukacita dengan mengharapkan apa yang bisa diberikan Yesus, Yesus akan menolaknya karena semua yang ingin mengikut Dia harus mengikut Dia karena pribadi-Nya, dan harus mau memikul salib, yang adalah sumber sukacita yang sejati. Inilah ciri yang pertama: seorang murid Kristus mau membayar harga yang harus dibayar, yaitu memikul salib. Kemudian datang orang yang kedua. Waktu Tuhan Yesus menjawab dengan negatif, semua diam. Namun Yesus tiba-tiba melihat satu orang dan berkata, “Ikutlah Aku!” Orang itu menjawab, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku. Melayani orang tua kita adalah hal yang baik, tetapi lagi-lagi Tuhan Yesus mempunyai jawaban yang negatif, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Persoalannya adalah tidak mungkin ayah orang ini sudah meninggal hari itu, karena siapapun yang bersentuhan dengan mayat menjadi najis, dan kalau dia mengurus penguburan ayahnya tidak mungkin dia bisa berada di tengah-tengah orang banyak karena orang-orang akan mengusir dia. Yang sebenarnya dia bicarakan adalah tradisi Yahudi bahwa menghormati ayah dan ibu lebih tinggi daripada sunat. Salah satu ciri penghormatan orang Yahudi terhadap ayahnya yang meninggal adalah mengurus penguburannya, dan setelah menunggu 1 tahun lebih, mereka harus membuka kuburnya, mengambil tulang-tulangnya, dan menyimpannya dalam suatu box yang disebut osuraium. Setelah itu box itu dikuburkan kembali di dalam kuburan keluarga dan baru selesailah tanggung jawab anak tersebut. Ada yang berspekulasi kalau ayahnya sudah sekarat, tapi tetap saja belum tentu ayahnya segera meninggal. Artinya orang ini menunda panggilan Tuhan sampai waktu yang tidak terbatas. Waktu selalu ada bagi kita, tetapi momentum tidak selalu ada bagi kita. Kalau momentum itu lewat, kita kehilangan suatu kesempatan yang begitu berharga. Ketika kita mendengarkan kebenaran Firman Allah, kita tidak boleh menunda keputusan, dan kita harus mengambil keputusan di sini dan sekarang. Inilah ciri yang kedua, murid Kristus adalah orang yang dipanggil untuk berani membayar harga, menanggung salib, di sini dan sekarang. Kristus menolak orang yang menunda untuk mengambil keputusan yang penting ini.

Lalu orang yang ketiga datang dan berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Lalu Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Mari kita bandingkan jawaban ini dengan di PL. Hal yang sama pernah terjadi ketika Elia datang mengajak Elisa pergi, Elisa mengatakan ingin berpamitan dengan orangtuanya, dan Elia mengizinkan. Tapi di sini Tuhan Yesus tidak mengizinkan. Ini bukan berarti Yesus melarang kita untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang kita kasihi. Buktinya perumpamaan tentang orang samaria yang baik mengajarkan bahwa relasi dengan orang lain tidak boleh rusak. Tetapi yang terjadi di sini adalah suatu situasi yang berbeda. Perbedaan pertama ada di orang yang dipanggil. Elisa waktu ingin berpamitan dengan orangtuanya tidak bertanya kepada orangtuanya apakah ia diizinkan untuk mengikut Elia. Dia hanya akan memberitahukan keputusannya kepada orangtuanya. Sementara orang yang ketiga digerakkan untuk mengikut Yesus, namun dia ingin bertanya kepada keluarganya apakah mereka setuju dengan keputusan itu. Inilah ciri yang ketiga, murid Kristus mengambil keputusan yang personal. Kita tidak bisa menyerahkan keputusan untuk menjadi murid Kristus kepada orang lain. Kita tidak bisa bersembunyi di balik orang lain. Panggilan untuk menyerahkan hidup kita secara total adalah panggilan yang sangat personal. Mengapa Yesus berkata bahwa dia datang untuk membawa pemisahan? Memisahkan suami dari istri, orangtua dari anak, menantu dari mertua. Bukan berarti Yesus ingin kita menceraikan orang-orang dekat kita, karena justru kita diperintahkan untuk mengasihi mereka. Tetapi dalam konteks tertentu orang-orang terdekat adalah yang menjadi penghalang bagi kita untuk meresponi panggilan Tuhan. Perbedaan yang kedua antara kisah Elia dan orang yang ketiga adalah pada pribadi yang memanggil. Elia memanggil Elisa, Yesus Kristus memanggil orang yang ketiga. Yesus Kristus jauh lebih mulia daripada Elia. Misi yang dikerjakan oleh Yesus Kristus jauh lebih penting dan mendesak dari misi Elia. Jika orang yang ketiga ini sungguh mengenal Yesus dan mengerti pekerjaan-Nya, maka keputusan personal ini akan segera ia ambil karena ia mengenal siapa Yesus Kristus yang mulia. Kalau kita ingin menyerahkan totalitas hidup kita dengan segala konsekuensinya, di sini dan sekarang, secara personal, ini hanya mungkin terjadi jika kita sudah berjumpa dengan Kristus yang mulia.

Apakah kita adalah orang Kristen yang sejati? Dimulai dari alat ukur yang pertama, kita harus berjumpa dengan Kristus yang mulia. Kita bukan orang Kristen jika kita tidak pernah berjumpa dan mengenal Kristus yang mulia, seorang pribadi yang lebih besar dari Elia dan semua orang besar lainnya. Perjumpaan inilah yang membuat kita berani untuk mengambil keputusan-keputusan personal yang paling penting. Setelah kita mengambil keputusan personal ini, kita akan mengerti sangat pentingnya Kristus dan misi-Nya, kita tidak akan menunda untuk mengambil keputusan di sini dan sekarang, dan bersedia untuk membayar harga yang harus ditanggung. N.T. Wright berkata bahwa jika kita mengaku telah berjumpa Kristus namun tidak pernah melayani-Nya dan menyerahkan totalitas hidup kita secara personal, mungkin kita berjumpa dengan Kristus yang lain. Apakah kita sudah berjumpa dengan Kristus yang sejati?