Bersaksi Bagi Kristus di Tengah Wabah Covid19

Dapat dikatakan, tahun 2020 adalah tahunnya virus Corona (Covid19). Sejak bulan Januari sampai bulan Agustus ini, selalu ada berita mengenai Covid19. Baik di televisi, siaran radio, internet, koran, dan bahkan handphone kita. Semua orang disibukkan dengan berita-berita ini, sehingga tanpa sadar, manusia memiliki perilaku baru dalam menghadapi Covid19. Mau tidak mau, tepat atau tidak tepat waktunya, orang yang muda atau orang yang tua, harus menghadapi bahaya dari penyakit Covid19 ini.

Mengapa manusia begitu fokus untuk menghadapi Covid19 ini? Karena taruhannya adalah nyawa seseorang. Yesus pernah memberikan penjelasan betapa berharganya nyawa seseorang. Dalam Matius 16:26, Yesus berkata “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Kalimat ini memberikan pesan kepada kita bahwa nyawa seseorang itu lebih penting dari segala hal yang dapat diperoleh atau diberikan oleh dunia. Apa yang dapat diberikan oleh dunia? Kekayaan, kuasa, nama, dan kenikmatan hidup. Segala hal yang dikejar dan dicari orang. Akan tetapi ada yang lebih penting dari itu semua yaitu nyawa seseorang. Nyawa berarti hidup. Hidup adalah hal yang paling penting bagi manusia. Bila manusia itu tidak punya hidup, berarti dia mayat. Jika manusia sudah menjadi mayat, maka dia tidak ada gunanya apa-apa. Dia tidak bisa menikmati dunia dan seluruh kenikmatan yang disediakan oleh dunia. Oleh karena nyawa begitu penting dalam hidup manusia melebihi segala hal di dalam dunia ini, maka manusia memproteksinya luar biasa. Jika ada hal yang bisa merenggut nyawa seorang manusia, manusia itu akan memikirkan agar hal tersebut tidak mengambil nyawanya. Manusia otomatis akan melawan Covid19 yang bisa membahayakan nyawanya. Itulah yang terus dibicarakan akhir-akhir ini.

Saya berpikir, andai saja Injil Kristus diberitakan dengan gencar selama 5 bulan terahkir ini, saya yakin semua orang bisa mengetahui tentang betapa baiknya Tuhan dan banyak orang mungkin akan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Percaya Yesus Kristus atau tidak merupakan sebuah hal yang juga menyangkut dengan nyawa seseorang. Antara sorga dan neraka. Percaya Kristus atau tidak adalah pembicaraan soal nyawa manusia. Jika dalam 5 bulan ini saja Covid19 sudah diberitakan ke seluruh dunia, dan mungkin hampir semua penduduk dunia mengetahui Covid19 ini, mungkinkah jika Injil diberitakan maka semua orang juga bisa mengetahui pesan mulia dari Injil Kristus ini?

Di tengah-tengah wabah Covid19 ini, bagaimanakah orang Kristen bersikap? Bagaimana kita bertindak? Apakah kita bersikap seperti sebagian orang yang takut sekali terhadap Covid19 ini? Apakah menjadi seperti sebagian orang yang terlalu khawatir tentang nyawa mereka dan keluarga mereka? Apakah menjadi seperti orang yang tidak menjaga diri dan masih saja pergi-pergi ke luar dengan sembarangan? Apakah menjadi seperti sebagian orang yang tidak peduli sama sekali dengan Covid19 ini? Beberapa orang menghadapi Covid19 ini dengan bijaksana. Mereka mulai beradaptasi, mereka memakai masker, membeli cairan alkohol, mencuci tangan, membeli vitamin untuk daya tahan tubuh. Ada juga sebagian orang yang begitu mengerti kondisi orang yang kurang beruntung, sehingga mereka mulai memberikan sebagian harta milik mereka kepada orang yang membutuhkan. Ada juga yang memberikan sembako kepada orang yang kehilangan pekerjaan dan perekonomian sulit karena wabah ini, mengirim APD (Alat Pelindung Diri) ke berbagai rumah sakit, memberikan himbauan-himbauan pencegahan penyebaran Covid19 ini, bahkan banyak tenaga medis yang rela mati untuk merawat pasien-pasien yang terkena Covid19 ini. Kembali lagi ke pertanyaan, bagaimanakah orang Kristen bersikap?

Alkitab menyatakan tuntutan yang sangat tinggi kepada kita sebagai orang Kristen dalam segala hal. Matius 5:20 mengatakan “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Dalam ayat ini, Yesus sedang bandingkan antara orang Kristen dengan ahli Taurat dan orang Farisi. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah orang yang kehidupan agamanya paling baik. Mereka memiliki standar tertinggi dalam kehidupan beragama mereka. Mereka berbuat baik, mereka bersedekah, mereka tekun berdoa, mereka berpuasa, mereka perpuluhan, mereka jalankan hukum Taurat dengan sangat ketat. Yesus mengatakan bahwa pengikut Kristus harus melebihi kehidupan baik dari ahli Taurat dan orang Farisi. Ini adalah pekerjaan baik yang melampaui kekuatan manusia. Pekerjaan yang Yesus tuntut adalah pekerjaan yang memerlukan anugerah Allah. Dengan demikian, jika kita tarik aplikasinya dalam hidup kita saat ini. Apa yang bisa dilakukan orang Kristen? Semua hal yang buruk dan bisa menjadi batu sandungan bagi sesama di wabah Covid19 ini, kita hindari. Lalu, semua hal yang baik dan bermanfaat bagi sesama di wabah ini, kita lakukan dengan maksimal. Ini adalah pekerjaan yang sulit, tetapi kita perlu berusaha semakismal mungkin menjadi berkat bagi orang lain. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan tugas khusus kita sebagai orang Kristen. Baik di tengah wabah Covid19 atau tidak, tugas penginjilan kita tetap harus dilaksanakan. Amanat Agung Tuhan Yesus tidak boleh diabaikan. Di tengah wabah ini, perintah Kristus pun tidak menjadi tidak berlaku. Kita punya tugas mengabarkan Injil. Di dalam Amanat Agung Tuhan Yesus, bukankah tidak ada syarat bahwa penginjilan tidak bisa dikerjakan pada saat wabah?

Saya ingin kita melihat dengan singkat mengenai teladan 3 tokoh sejarah Kristen, kurang lebih 300 – 600 tahun yang lalu. Siapakah mereka? Pertama, John Hus (1373-1415). Hus dikenal sebagai tokoh reformis pertama gereja, 1 abad sebelum Martin Luther. Pada waktu itu, sistem keagamaan sangat kuat dikuasai oleh gereja Katolik. Gereja Katolik pada waktu itu bagaikan kerajaan yang tanpa celah sedikit pun. Tidak ada orang dari kelompok luar gereja dan kelompok rohaniwan yang mampu mengubah sistem agama gereja Katolik. Akan tetapi, keyakinan iman Hus yang besar terhadap kebenaran dan sikap tidak komprominya terhadap kebenaran menimbulkan masalah kepada gereja Katolik. Hal utama yang ditentang oleh Hus adalah pengajaran mengenai indulgensia. Hus membayar mahal untuk keyakinan imannya untuk menyatakan kebenaran. Dia menyatakan bahwa upah dosa adalah maut, dan tidak ada usaha atau jasa yang dapat dilakukan oleh manusia agar diampuni dan dilepaskan dari penghukuman Allah, kecuali melalui anugerah Yesus Kristus. Hus dianggap sesat, ditangkap, diadili, dan dihukum. Hus mati dibakar pada tiang sebagai pemberontak. Apakah sistem keagamaan yang kuat pada saat itu mengurungkan niat Hus untuk menyatakan kebenaran dan memberitakan Injil? Tidak. Apakah hal yang kelihatannya mustahil membuat Hus berdiam diri dan tidak menyaksikan kebenaran? Tidak juga. Kematiannya tidak sia-sia, sebab ada seseorang yang mengikuti jejak rohani Hus yaitu Jon Amos Comenius.

Saksi kebenaran yang kedua adalah Jon Amos Comenius (1592-1671). Comenius memiliki sifat yang sangat pendiam dan pemalu sehingga banyak orang mengira ia agak terbelakang. Akan tetapi, dia menjadi sumbangsih bagi kemajuan pendidikan modern. Bahan bakar yang membuat Comenius terus mencari ilmu pengetahuan adalah kepercayaan bahwa karena segala sesuatu diciptakan melalui Kristus dan bagi Dia, Kristus dapat dilihat dalam segala sesuatu (Kolose 1:16). Ia menyatakan bahwa semua ilmu pengetahuan sejati akan menyatakan kemuliaan Kristus. Dia menyatakan bahwa “alam adalah buku kedua Allah.” Selain itu, pengaruh yang dia berikan dalam dunia pendidikan yaitu dia menjadi orang pertama yang memperjuangkan pendidikan bagi para wanita dan anak-anak dari seluruh golongan; Ia mempromosikan kurikulum yang bervariasi dalam sejarah, geografi, ilmu pengetahuan, musik, nyanyian, drama, ilmu kewarganegaraan dan pekerjaan tangan; Ia percaya bahwa seluruh proses belajar dibantu dengan menggunakan semau indera (penglihat, peraba, pengalaman, penciuman, dan pendengaran) kita untuk berinteraksi dengan lingkungan. Comenius bukan saja menjadi berkat dalam pendidikan, tetapi juga menjadi berkat dalam pelayanan gerejawi sebagai hamba Tuhan. Apakah sifat dan karakter Comenius yang pendiam dan pemalu membuatnya tidak menjalankan tugas penginjilan? Tidak. Dia setia kepada kebenaran dan mau Tuhan untuk berkontribusi di dunia pendidikan dan pelayanan gerejawi.

Saksi kebenaran yang ketiga yaitu Count Nikolaus Ludwig Von Zinzendorf (1700-1760). Dia berasal dari keluarga yang kaya, dan keluarganya sudah mempersiapkan Zinzendorf untuk duduk di kursi paling berpengaruh di salah satu pengadilan daerah. Apakah itu menghentikannya untuk memberitakan injil? Tidak. Kekayaan maupun kuasa tidak menghentikannya untuk bersaksi. Ia melepaskan itu semua dan menghabiskan masa depannya untuk memberitakan Injil ke ujung dunia. Ia melahirkan misi-misi modern, memperbaharui gereja Moravia, dan menyinari kebenaran-kebenaran Reformasi sehingga menjadi gaya hidup praktis bagi setiap rumah. Salah satu hal unik yang dikerjakan Zinzendorf adalah orang-orang Moravia menjadi sebuah gerakan yang besar. Apakah dia melakukan hal tersebut dengan disengaja? Tidak. Zinzendorf tidak bermaksud untuk mengubah pikiran dan doktrin seseorang. Ia mengasihi orang-orang Katolik sama seperti ia mengasihi orang-orang Lutheran, dan ia tetap menjadi seorang Lutheran sampai akhir hidupnya. Dia menyentuh sesuatu yang sangat luhur dan mulia sehingga orang-orang percaya sejati dari setiap doktrin yang berbeda-beda ingin mengklaimnya milik mereka, walapun sebenarnya banyak doktrin mereka yang tercerai-berai akibat pengaruh hidup Zinzendorf.

Kerohanian seperti apakah yang dimiliki oleh Zinzendorf? Zinzendorf mengajarkan bahwa kekuatan kasih kepada Tuhan yang begitu besar. Kuasa dari kehidupan Zinzendorf adalah gairahnya yang menyala-nyala bagi Yesus. Kasihnya kepada Tuhan dipancarkan dengan roh yang mulia sehingga membuat pertentangan dan perdebatan sekolah-sekolah teologi yang terpelajar terlihat najis dan tidak masuk akal bila diperbandingkan. Jika Luther telah mengubah gereja dengan berdiri di atas kebenaran, Zinzendorf melakukannya dengan berdiri di atas kasih. Kasih ini membawa Reformasi kepada suatu tingkatan baru. Seperti dalam 2 Korintus 3:6c “Hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” Zinzendorf tidak membuat perbedaan semakin tajam. Dia percaya bahwa Alkitab mengajarkan hanya ada 1 gereja dan seluruh orang-orang percaya sejati. Baik itu Lutheran, Moravia, atau pun Katolik. Semuanya adalah saudara dalam Kristus. Zinzendorf mengenal iman sejati secara pribadi, ia bebas untuk memiliki persekutuan dengan siapa saja yang mengenal dan mengasihi Juruselamat tanpa menghiraukan keanggotaan institusional mereka. Ia tidak pernah menyerang atau mencoba melemahkan institusi, dia bangkit di atas institusi. Dia ingin mengenal orang-orang yang penuh dengan Roh daripada hanya dari penampilan luar, yaitu misalnya berdasarkan keanggotaan doktrinal/institusional. Di bawah pengaruh Zinzendorf, gereja Moravia berkembang menjadi gereja yang kuat dan penuh kasih. Kasih orang-orang Moravia bagi jiwa yang terhilang mendorong mereka mengirimkan misionaris sampai ke ujung bumi. Ini merupakan kelahiran gerakan misionaris modern. Zinzendorf dan Gereja Moravia sudah menjadi salah satu inspirasi dan contoh terbesar dalam penginjilan.

Ingatkah kita akan tugas penginjilan? Sudahkah kita bersaksi kepada orang-orang di sekitar kita? Apakah situasi dan kondisi yang sulit menjadi alasan bagi kita untuk tidak bersaksi? Tuhan sudah pernah memakai 3 orang untuk bersaksi di tengah segala ketidakmungkinan yang ada. Maka selayaknya kita pun percaya bahwa Tuhan pun menyediakan kesempatan di mana kita bisa bersaksi bagi Kristus di tengah-tengah Covid19 ini. Kiranya Roh Kudus menyertai, memimpin, dan membukakan mata rohani kita untuk melihat kesempatan pelayanan bersaksi bagi Kristus di tengah wabah ini.

Referensi:
– Tiga Saksi, Rick Joyner. Bandung: Revival Publishing House, 2000.
http://missionaries.griffith.edu.au/missionary-training/moravians-herrnhut-1722-1869
https://en.wikipedia.org/wiki/Indulgence

Catatan Kaki:
– Indulgentia, dari indulgeō, artinya ‘ijin’) merupakan sebuah cara untuk mengurangi jumlah hukuman yang harus dijalani seseorang untuk dosa.
– Gereja Moravia terdiri dari komunitas agama Kristen yang disebut dengan Unitas Fratrum. Orang-orang ini berasal dari desa pengungsi yang diorganisir oleh Zinzendorf di Herrnhut (Saxony, Jerman).
– Dalam 30 tahun, komunitas kecil ini mengirim 226 misionaris ke Greenland, Amerika Utara, Afrika dan Hindia Barat. Misi pertama di Afrika Selatan didirikan oleh seorang Moravia pada 1738. Lalu pada 1741 di Pennsylvania, sebuah koloni Moravia yang bernama Betlehem bertumbuh menjadi beberapa ratus orang dalam 10 tahun, dan mendirikan 32 daerah pelayanan misi di antara orang Indian Amerika dan orang Afrika yang berdagang budak. Para misionaris dari Herrnhut adalah kelompok yang paling aktif di abad 18. Mereka memulai 32 misi di seluruh dunia kolonial.