Berdoa dengan Benar

Tuhan, ajarlah kami berdoa (Luk. 11:1)

Berdoa dengan benar bukanlah hal yang mudah. Mencurahkan isi hati dan jiwa Anda di hadapan Allah, meyakini bahwa Dia mendengar dan akan datang menolong Anda; berdoa di dalam iman dan bergumul dengan-Nya; berjuang demi berkat dan harapan melawan harapan; tertunda, tetapi tetap menanti sampai Dia datang; ini hal yang terlampau sulit untuk dilakukan. Kerusakan alamiah kita menghambat kita dengan ketumpulan dan kekerasan hati. Rasa bersalah menikam doa-doa kita dan menghadang jaminan kepastian. Ketidakacuhan kita terhadap sifat dan metode Allah merintangi kita untuk berdoa dengan benar. Kita mempunyai gambaran yang salah tentang Allah dan untuk berdoa dengan benar. Kita mempunyai gambaran yang salah tentang Allah dan menganggap Dia lebih menyerupai salah satu dari kita, bukan sebagai Pribadi yang memenuhi langit dan bumi dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya.

Sekalipun Ia begitu baik kepada kita, doa-doa kita lemah dan dingin. Kita menilai penundaan sebagai penolakan, iman kita goyah dan kita mudah berkecil hati dan menyerah. Kepelikan masalah yang kita doakan juga menghambat doa-doa kita. Iblis bekerja keras senantiasa untuk menentang doa-doa kita. Iblis sadar bahwa jika iman kita tidak erat mencengkeram Allah, maka Allah tidak akan menyentuh kita. Iblis menyerang kita pada titik vital ini: pencarian kita akan Allah. Iblis mengisi hati kita dengan kekhawatiran, pencobaan, atau pikiran negatif tentang Allah demi menjauhkan kita dari doa. Jika kita masih terus berdoa, Iblis akan mencoba mempengaruhi kita dengan keputusasaan bahwa doa-doa kita tidak didengar, dan bahwa Allah tidak mengasihi kita.

Salah satu tugas tersulit di dunia adalah berdoa dengan iman dan perasaan. Jika Anda terantuk dan gagal, jangan berkecil hati; sadarilah bahwa berdoa memang sulit. Jangan tawar hati sementara Anda berjalan dengan beban yang berat, sehingga Anda kadang kala harus mengambil waktu untuk duduk bersitirahat sebentar. Jika Anda terus mencoba, perjuangan dan upaya Anda pada akhirnya akan berhasil. Membuat doa berhasil menyerupai proses kelahiran seorang anak. Ada banyak rasa sakit, kepedihan, dan kesusahan, akan tetapi terdapat banyak sukacita ketika anak itu telah lahir. Jika Anda bersusah payah di dalam doa, sadarilah bahwa hasil akhirnya adalah demi kebaikan Anda.

 Richard Sibbes (1577-1635), Works, VII:242-246; Richard Rushing – Voices from the past