Ambisi-ambisi Paulus akan Salib Kristus

1 Kor. 1:22-24; 1 Kor. 2:2; Gal. 6:14; Fil. 3:10

Paulus memfokuskan pikirannya kepada Kristus yang tersalib. Paulus menyatakan bahwa dia datang kepada jemaat Korintus dalam keadaan yang takut dan gentar. Dia tidak bersandar pada kata-kata indah. Dia bersandar kepada kekuatan Roh Kudus. Paulus datang kepada orang Korintus yang mengerti filsafat Yunani. Paulus memutuskan untuk tidak mengetahui apapun selain Kristus yang disalibkan. Hal yang baik kalau Paulus mempelajari filsafat Yunani sebelum menginjili mereka tetapi itu bukan jaminan. Paulus adalah seorang fllsuf yang hebat, tetapi dia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara orang Yunani kecuali menggumulkan tentang Kristus yang disalibkan. Radha Krishna adalah seorang filsuf India yang terkenal. Ketika orang Kristen semakin menyerang dia dan mengkritik agama Hindu, bukan saja dia tidak bertobat, tetapi dia bahkan semakin mendalami agama Hindu. Oleh sebab itu Paulus berkata bahwa dia hanya bersandarkan Kristus yang disalibkan, walaupun sebenarnya dia mengerti banyak hal. Ini adalah hal yang pertama yaitu memikirkan Kristus yang disalibkan. Di dalam Fil. 3:18-19 Paulus berkata bahwa ada orang-orang yang disebut sebagai seteru salib Kristus yaitu orang-orang yang pikirannya semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Paulus justru memfokuskan pikiran kepada Kristus yang tersalib walaupun dia belajar mengenai banyak hal.

Di dalam sebuah lukisan Caspar David Friedrich terlihat sebuah bukit yang dikuasai oleh kabut pada pagi hari. Di atas bukit ada salib. Ketika saya melihat lukisan itu di sebuah pameran di Groeningen, saya bersyukur Kristus ditinggikan. Di bawah lukisan tersebut tertulis keterangan: “Redemption of human being only comes from the crucifixion of Christ.” Saya berdoa supaya ada orang yang diselamatkan. Kabut di lukisan itu seperti menutupi salib. Namun kalau kita memperhatikan dengan teliti maka kita akan menemukan ada salib di atas bukit. Lukisan ini menggambarkan kehidupan kita. Ketika kita menjalani hidup Kristen kita, awan pergumulan dan kesenangan menutupi mata kita sehingga mata rohani kita tidak melihat salib. Bagian pertama ini merupakan undangan untuk fokus kepada Kristus yang tersalib.

Kita sering memikirkan tentang salib hanya ketika Perjamuan Kudus atau Jumat Agung. Seharusnya kita memikirkan salib Kristus sepanjang hidup kita. Perjamuan Kudus dilakukan setiap beberapa bulan sekali karena bukan sebagai peringatan melainkan sebagai undangan bagi saudara dan saya untuk sekali lagi memikirkan salib Tuhan. Ayat dari 1 Kor. 11:26 sering dibacakan dalam Perjamuan Kudus, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Bentuk dari “setiap kali makan roti dan minum cawan” adalah present tense. Bentuk “kematian Tuhan” adalah past tense. Bentuk “sampai Ia datang” adalah future tense. Tiga dimensi waktu ada di sini. Oleh sebab itu Perjamuan Kudus adalah undangan untuk terus memikirkan salib Kristus. Ketika saudara menghadapi dosa atau apapun yang terjadi dalam hidup saudara, jangan lupa memikirkan salib Tuhan. Paulus hendak menyatakan bahwa salib Kristus cukup untuk menyelamatkan orang-orang Yunani, tanpa perlu mengerti filsafat Yunani. Kita bukan belajar semua baru dipakai Tuhan. Ada orang yang sebelum masuk sekolah teologi begitu dipakai Tuhan. Namun ketika sudah lulus sekolah teologi malah tidak dipakai Tuhan. Satu dilema yang berat.

Hal yang kedua adalah identitas diri yang dibangun di atas salib Kristus. Inilah yang dilakukan Paulus di Gal. 6:14. Di zaman itu istilah salib tidak boleh diucapkan oleh orang Romawi kelas atas. Pilatus tidak menggunakan kata menyalibkan melainkan menjatuhi hukuman mati. Salib adalah sesuatu yang sangat memalukan. Namun ada sesuatu yang sangat luar biasa pada salib Kristus yang dilihat oleh Paulus. Di dalam terang Tuhan kita mengerti bahwa salib menebus kita. Di dalamnya ada kematian yang menggantikan hukuman kita.

Dietrich Bonhoeffer mengatakan, “Ketika kita menghadapi salib, kita berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa.” Hal pertama dari dua aspek luar biasa salib dalam pandangan Bonhoeffer adalah cinta sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Bapa. Ini kontradiktif. Zaman dulu orang dijodohkan dengan hanya melihat foto tanpa bertemu orangnya. Mereka taat. Namun sekarang tidak mau lagi. Yesus mencintai kita dengan cinta yang datangnya dari ketaatan kepada Bapa. Ini luar biasa. Ini tidak bisa terjadi pada hidup manusia. Itu sebabnya Bonhoeffer mengatakan hal tersebut. Aspek kedua adalah cinta tidak mendapatkan apa-apa. Seorang laki-laki rela berkorban kalau ada yang dia dapatkan. Seperti tokoh Jack dalam film Titanic di mana dia rela berkorban demi mendapatkan tokoh wanita yaitu Rose yang cantik. Jack dari kelas bawah sedangkan Rose dari kelas atas. Yesus mati di kayu salib tidak mendapatkan apa-apa dari kita. Apa yang didapatkan Jack? Dia mendapat semuanya. Yesus menderita di kayu salib, berkorban habis-habisan, tapi tidak mendapat apa-apa dari kita.

Paulus mempunyai pertimbangan yang menarik mengapa dia bangga kepada salib Tuhan. Paulus membuat dua pemisahan di Galatia 6:14-15. Pertama, Paulus berkata oleh salib Tuhan dunia mati baginya dan dia mati bagi dunia. Artinya terjadi pemisahan antara Paulus dan dunia. Dunia tidak lagi menarik bagi dia. Saya memikirkan ayat ini berkali-kali dan saya berpikir mungkin bagi Paulus dunia sudah tidak menarik lagi karena ketika Paulus sudah melihat cahaya kemuliaan salib Tuhan, cahaya kemuliaan dunia itu menjadi kalah dan redup. Yang kedua, di ayat 15 Paulus berkata, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya”, berarti Paulus sudah dipisahkan dari kehidupan lama ke kehidupan yang baru. Ini yang membuat kita bangga, bahwa identitas kita dibangun diatas salib Tuhan. Apapun yang ada pada kita, yang Tuhan beri kita syukuri: harta benda, kesehatan, tapi ingat bahwa suatu hari semuanya akan hilang dan yang terus ada adalah salib Kristus. Itu yang menjadi identitas kita, citra diri kita, kebanggaan kita, pegangan kita. Maka dari dua pertimbangan ini kita menangkap Paulus sebagai orang yang terus memeluk salib Tuhan.

Ambisi yang ketiga adalah ambisi yang paling sulit. Paulus berkata dalam Filipi 3:10: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Serupa dengan kematian-Nya namun tidak sama, karena Paulus tidak bisa mati menanggung dosa orang lain. Paulus bukanlah juruselamat tetapi Paulus ingin kematiannya mirip dengan kematian Yesus. Kalau Yesus mati demi kehendak Allah, dia juga ingin mati demi kehendak Allah. Kalau Yesus mati untuk melayani orang lain, dia juga ingin mati dalam melayani orang lain. Kalau Yesus mati dalam ketaatan, dia juga ingin mati dalam ketaatan. Inilah ambisi yang ketiga: ambisi untuk rela mengalami ketidaknyamanan demi kemuliaan dan kehendak Tuhan. Rela terluka, disalahpahami, diperlakukan tidak adil asal Tuhan senang, asal kehendak Tuhan dijalankan. Ini ambisi yang biasa dimiliki para misionaris. Paulus ingin bersekutu dalam penderitaan Tuhan. Kalau bersekutu dalam kasih itu sering kita dengar, tapi disini ia ingin bersekutu dalam penderitaan Tuhan dan menjadi serupa dengan Yesus dalam kematian-Nya. Kita perlu anugerah Tuhan yang banyak untuk menanggung ambisi yang ketiga ini.

Ambisi yang keempat dan terakhir, Paulus berambisi untuk hanya memberitakan Kristus yang disalibkan. Orang Yahudi menghendaki mukjizat, orang Yunani menghendaki filsafat. Bagi orang Yahudi yang penting adalah presentasi mukjizat, bahkan sebaliknya salib itu dianggap sebagai sebuah skandal dan sebuah presentasi kelemahan. Di Matius 16 dikatakan para orang Farisi dan Saduki meminta Yesus untuk memperlihatkan tanda dari surga. Tetapi bukan mukjizat dan justru kelemahan yang dipresentasikan oleh Yesus di kayu salib. Di sisi lain, orang Yunani menghendaki filsafat. Mereka ingin belajar hal-hal yang baru dan bagi mereka orang yang disalibkan itu kebodohan dan kegilaan. Apakah dengan pendengar seperti orang Yahudi dan Yunani ini Paulus ingin mengikuti dan menyenangkan mereka? Tidak. Di 1 Korintus 1 Paulus tidak ingin menyenangkan pendengar. Di 1 Korintus 2 Paulus tidak ingin menyesuaikan dengan pendengar. Mereka ingin mukjizat, ingin filsafat, tetapi Paulus tetap memberitakan Yesus yang disalibkan. Dia tidak takut ditolak oleh pendengar dan tidak mau mencari popularitas. Meskipun dia bisa melakukan mukjizat, membangkitkan orang mati, mengerti berbagai filsafat yang hebat, tetapi yang dia hanya ingin memberitakan Yesus yang mati disalibkan. Ini mengajarkan bahwa kesetiaan lebih baik daripada popularitas dan penerimaan. Berita lebih penting dari cara atau pemberita. Kita sering menginginkan orang untuk mengerti penderitaan kita, tetapi kita jarang mengiginkan orang untuk mengerti kesuksesan kita karena itu mudah untuk dilakukan. Tetapi yang paling penting adalah bagi setiap orang untuk mengerti penderitaan Tuhan supaya orang berespons secara pribadi kepada salib Tuhan. Penderitaan kita tidak bisa mengubah seseorang, yang bisa mengubah hanyalah penderitaan Tuhan. Kalau seseorang sudah benar-benar melihat salib Tuhan, dia tidak bisa terus bermain dalam dosa, membanggakan diri sendiri, atau mengeluh akan penderitaannya sendiri. Marilah setiap orang berhadapan dengan salib dan menggumulkan apa yang Tuhan mau. Yang kita harus beritakan kepada orang lain adalah Kristus yang tersalib. Ini lebih penting untuk diberitakan daripada siapa kita, atau penderitaan yang sedang kita alami. Sama seperti Paulus, Kristus yang tersalib harus menjadi pikiran, identitas, dan ambisi kita. Bukan hanya sekali-kali saja memikirkan salib, tapi harus sepanjang hidup kita memikirkan salib dan meresponinya secara pribadi. Kiranya Tuhan memberkati kita dan menolong kita untuk senantiasa berpegang pada salib Kristus.